Ia cenderung menghindari berita-berita yang bersifat framing atas kelompok tertentu, berpotensi mempertajam polarisasi, dan memanen kontroversi. Dan itu bukanlah sebuah kesalahan jika berkaca pada slogan yang ia miliki.

 

Kiwari ini, berita tidak lagi identik dengan peristiwa serius dalam panggung politik atau dunia selebritis. Apapun bisa menjadi berita. Tergantung pada kecepatan penyebarannya; tergantung viral atau tidaknya kalau kata generasi zaman now. Hal itu sudah menjadi bagian dari hampir semua media massa hari ini, terutama media daring/online yang kini banyak bermunculan. Mereka seakan mencoba memberikan jawaban atas kebosanan masyarakat terhadap berita yang terkadang ‘itu-itu saja’. Dari berbagai media daring yang sering saya akses, Indozone adalah salah satunya. Saya secara pribadi mengetahuinya belum lama, bahwa, akun instagram yang selalu konsisten mengusung tagar #kamuharustau kini memiliki sebuah portal berita daring. Dalam tulisan ini, saya akan memberikan review tentang portal ini.

Hal pertama yang ingin saya bahas adalah kecepatan pemberitaan dan kemampuan integrasinya yang memukau. Berita-berita baru selalu ditayangkan lewat unggahan instagram sehingga anak-anak muda, sebagai sasaran utama Indozone, tidak ketinggalan informasi terbaru dari Indozone. Tidak sekadar melalui foto dan grafik namun juga lewat caption yang cukup memberikan garis besar informasi tersebut. Rasanya, Indozone sadar bahwa kepraktisan adalah salah satu unsur penting dalam kehidupan generasi milenial dan generasi Z sebagai sasarannya dan ia melakukannya dengan sangat baik. Tidak sekadar meminta para pembaca mengunjungi portalnya namun juga menyuguhkan berita lewat fitur highlight per judul di akun Instagram mereka yang telah terverifikasi.

Dalam kacamata saya sebagai penikmat berita daring, Indozone memang bukan portal yang cocok untuk para penikmat indepth news atau artikel-artikel investigatif seperti yang sering dijumpai di media arus utama. Berita di dalamnya cenderung acak – penuh warna, kalau kata saya. Indozone memang tetap memuat kategori berita hard news seperti politik dan hukum. Namun, itu tidak membuatnya kehilangan ruang untuk tetap menyajikan informasi-informasi ringan khas anak muda dalam kemasan yang tetap informatif dan pas; tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Toh ini juga sama sekali tidak salah sebab ia mengusung slogan the most engaging media for millenials and gen Z. Ya, untuk generasi milenial dan generasi Z yang menyukai kepraktisan dan cenderung enggan membaca berita-berita yang serius dan panjang yang terkesan membosankan.

Info-info populer dan viral selalu menjadi salah satu bagian penting dalam konten Indozone. Dibandingkan dengan media lain, Indozone bagi saya mencoba menghadirkan sisi informatif dari sebuah peristiwa yang terkesan semua orang sudah tahu karena viral. Portal berita satu ini tidak sekedar menjual isu yang sedang viral demi sebuah klik. Lebih dari itu, saya merasa Indozone tetap tidak melupakan kewajibannya sebagai sebuah media. Ia tetap berusaha menghadirkan sisi lain sebuah informasi yang saat itu sedang viral. Ini membuat Indozone punya ciri pembeda dengan portal berita lain yang di saat hampir bersamaan mengangkat berita yang sama-sama sedang viral.

Hal-hal di atas menjadi semakin asyik ketika Indozone mengemasnya lewat UI (user interface) yang tidak kalah informatif. Pengunjung akan dengan mudah menemukan berbagai kolom kategori sesuai jenis berita. Mulai dari news (untuk berita-berita hard news), fakta dan mitos, game, hingga tech (untuk berita seputar dunia IT). Pengunjung seharusnya tidak akan ‘tersesat’ di belantara artikel seperti yang terjadi saat mengunjungi beberapa portal berita daring lainnya. Keasyikan ini masih dilengkapi dengan infografik dan videografik yang tak kalah informatif yang menjadi pilihan lain bagi pengunjung portal yang ingin mencari informasi namun malas membaca.

Indozone sendiri cukup berani dalam urusan menawarkan kategori berita. Tidak tanggung-tanggung, ia punya 14 kategori berita (belum termasuk Youtube, indeks, infografik, dan videografik). Dari semua itu, bagi saya ada 3 kategori yang menarik di sini yaitu Soccer, Music, dan Movie. Saya sangat jarang menemukan portal berita yang mempunyai kategori khusus untuk 3 hal tersebut. Bagi saya, ini menjadi sebuah warna lain di Indozone dalam upayanya menarik minat masyarakat terutama dari kalangan anak muda karena dua hal itu biasanya menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Tidak banyak pula media daring yang menawarkan integrasi ke kanal  Youtube. Di Indozone, kita langsung bisa masuk ke kanal Youtubenya tanpa harus berpindah aplikasi. Cukup dengan membuka satu tab yang sama dan kita sudah mendapatkan semuanya.

Di luar semua alasan di atas – yang terkesan teknis – ada alasan personal lain yang membuat saya tetap betah menikmati Indozone. Media satu ini memang sering mengeluarkan artikel remeh seperti kasus seputar dunia selebritis dan hal-hal viral namun tidak lewat cara berjualan klikbait. Ya, klikbait, sebuah penyakit yang menjangkiti banyak portal berita daring hari ini. Indozone tidak menghadirkan judul yang serba hiperbolis untuk sebuah konten yang ternyata ‘minimalis’. Terlepas dari pola pemberian judulnya, Indozone bagi saya selalu mencoba jujur: ada pembeda yang jelas antara judul artikel serius seperti pada kategori news dan artikel-artikel ringan, sebutlah contoh seperti pada kategori FYI atau kategori fakta dan mitos.

Sepanjang saya menjadi pembaca Indozone, saya secara jujur harus mengakui media satu ini cukup berhati-hati dengan fenomena hoaks (mohon dikoreksi jika saya salah). Rasanya, ia tetap mengusung kaidah jurnalisme yang ketat dalam menghasilkan sebuah berita. Minimal, saya menemukan ada unsur cover both sides di sana, terutama di kategori news. Ini membuat berita di Indozone tidak sekadar menjadi opini para redakturnya yang kemudian rawan terjebak dalam pusaran kasus hoaks – apalagi yang diciptakan secara sengaja – yang kemudian membuat kualitas beritanya menurun dan berpotensi membuat pergi para pembaca setianya.

Rasanya banyak dari kita yang tahu beberapa waktu lalu media-media di Indonesia sempat terpolarisasi akibat gelaran pilpres. Sayangnya lagi, banyak media yang masih terjebak di zona tersebut hingga saat ini. Saya sempat skeptis bahwa Indozone sebagai sebuah media baru akan mampu melawan tren tersebut. Seiring berjalannya waktu, saya harus mengakui bahwa skeptisme saya tidak terbukti dan itu menjadi alasan personal lain untuk menyukai portal berita satu ini. Ia tetap mampu menghasilkan berita-berita yang netral secara politis namun tetap menarik. Bahkan saya menilai, ia cenderung menghindari berita-berita yang bersifat framing atas kelompok tertentu, berpotensi mempertajam polarisasi, dan memanen kontroversi. Dan itu bukanlah sebuah kesalahan jika berkaca pada slogan yang ia miliki.

Sebuah review tentu tidak akan berimbang jika tidak membahas tentang kekurangan. Hal pertama yang ingin saya kritisi di Indozone adalah kemasan infografiknya. Saya menilai kemasan infografik di Indozone terlalu ‘tua’ bagi sebagai sebuah media yang mendaku diri paling menarik bagi anak muda. Tidak ada suatu ciri khas yang identik dengan dunia anak muda pada infografik yang ia produksi. Saya membayangkan bahwa akan jauh lebih menarik andai Indozone mampu menciptakan sebuah ikon selain logo pada infografiknya yang sangat identik dengan anak muda. Kekurangan kedua bagi saya adalah belum adanya versi mobile apps Indozone. Padahal, sebagai media yang menyasar kalangan milenial dan generasi Z sebagai pembaca utamanya, hal tersebut rasanya sesuatu yang teramat penting.

Selebihnya, saya tidak menemukan apa yang kurang dari Indozone.id. Jikapun ada yang tidak saya sukai secara personal darinya adalah tidak berimbangnya porsi pemberitaan antara berita-berita viral dengan berita-berita yang lebih serius. Toh saya sadar, portal ini mengusung slogan the most engaging media for millenials and gen Z – dan saya sadar dua generasi tersebut memang lebih cenderung memilih berita-berita yang bersifat hype, ringan dan populer dibandingkan berita-berita investigatif contohnya.

Terlepas dari pandangan personal di atas, saya harus mengakui bahwa sebagai sebuah media berusia muda, Indozone berhasil menghadirkan warna berbeda dalam semesta portal berita daring Indonesia. Ia tidak sekadar menarik generasi milenial dan generasi Z, ia tidak sekadar menjual sebuah isu viral. Selebihnya, ia tetap menyajikan keberimbangan dalam aneka warna berita yang ada di dalamnya.

Bagikan

Leave a Reply