Bagi kalian yang hidup di wilayah pedesaan Jawa, perayaan 17 Agustus tidak bisa dilepaskan dari sebuah agenda bernama tirakatan atau jamak pula disebut malam tirakatan. Kegiatan ini biasanya dilakukan sesuai dengan kesepakatan warga setempat; bisa diadakan tanggal 16 Agustus malam atau 17 Agustus malam. Biasanya pula, kegiatan ini menjadi puncak perayaan 17 Agustus di wilayah tersebut dan diisi dengan pentas seni, pembagian hadiah lomba, kenduri, dan doa bersama.

Kata tirakatan berasal dari bahasa Jawa, tirakat yang mendapat akhiran -an. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tirakat berarti v menahan hawa nafsu dan v mengasingkan diri ke tempat yang sunyi. Secara konteks, tirakat mirip dengan aktivitas semedi. Dalam bahasa Jawa ada pula istilah lain yang artinya berdekatan yaitu nenepi dan tetirah. Sementara dalam bahasa Indonesia, ada istilah meditasi yang secara konteks berdekatan dengan nenepi, tetirah, semedi, maupun tirakat. Di masyarakat Jawa, istilah tirakatan jamak digunakan dalam peringatan hari-hari besar lain seperti pada peringatan tahun baru Islam.

Mari beranjak ke kenyataan. Bagi yang tidak tahu, malam tirakatan biasanya diadakan di rumah tetua sebuah desa/dusun. Bisa rumah si kepala dusun/desa atau rumah lain yang dianggap cukup untuk menampung semua warga di wilayah tersebut. Di beberapa wilayah, kegiatan malam tirakatan juga terkadang digabungkan dengan rangkaian acara merti desa sehingga ada prosesi berdoa dan kenduri. Jika kalian bingung, sebenarnya kegiatan ini tidak jauh berbeda dari kegiatan malam puncak peringatan 17 Agustus di tempat lain.

Yang menarik tentang konsep ini adalah bagaimana respon kultural masyarakat Jawa di wilayah pedesaan dalam menyambut datangnya hari besar, termasuk hari kemerdekaan. Lupakan sejenak lomba memasukkan spidol dalam botol Betadine, lomba pecah air, atau lomba-lomba lain yang bersifat seremonial. Alih-alih menyambutnya dengan seremoni, mereka malah menyambutnya dengan sebuah kebiasaan lama yang saya secara pribadi yakin itu sudah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan dulu.

Jika saja dilakukan berdasarkan makna harfiahnya, tirakatan atau jika diubah menjadi kata kerja bertirakat dalam menyambut tanggal 17 Agustus, maka hal itu akan membuat bangsa ini menjadi aneh. Sangat mungkin tidak akan ada bendera warna-warni dipasang di tepi-tepi jalan dan aneka ragam perlombaan berbagai usia. Sangat mungkin yang ada adalah orang-orang berlomba-lomba ke gunung, ke gua-gua kuno, ke tempat-tempat yang dianggap wingit atau duduk bersila dalam kamar demi menarik diri dari keramaian dan bertirakat memikirkan makna kemerdekaan bangsa mereka.

Jika saja dibandingkan dengan jenis perayaan kemerdekaan Indonesia lainnya, tirakatan tentu jauh lebih mengakar. Berbagai literatur sejarah menyebutkan bahwa aneka ragam lomba yang kini jamak kita lihat menjelang HUT RI adalah salah satu produk budaya zaman Belanda. Dulu, masyarakat Belanda melakukannya sebagai bahan hiburan; mentertawakan inlander yang berlarian kesana-kemari dalam ajang perlombaan tersebut. Saat Indonesia telah merdeka, berbagai lomba itu tetap diadakan sebagai wujud kebahagiaan bahwa kini masyarakat tidak melakukan itu demi tontonan orang kulit putih. Sementara tirakatan, silakan cek sendiri berapa banyak tempat, entah itu gua atau tempat khusus pertapaan, yang sering digunakan tokoh-tokoh sejarah era kerajaan untuk tetirah atau semedi.

Budaya tirakatan, walaupun kini mungkin tinggal eksis secara harfiah dan pelabelan kegiatan, rasanya adalah sebuah bentuk antitesis dari budaya seremonial dalam menyambut datangnya hari kemerdekaan. Saat masyarakat pada umumnya menyambut hari ketujuh belas bulan Agustus dengan aneka ragam suka cita lomba-lomba, tirakatan mengajak kita melakukan sebaliknya. Ia mengajak kita keluar dan mengambil jarak dari lingkaran keramaian dan merenungkan apa yang sejatinya sedang kita sambut itu.

Saya memang dengan amat sengaja memilih diksi pragmatisme untuk membandingkan dua hal di atas. Toh rasanya tidak ada diksi lain yang lebih ‘halus’ untuk menggambarkan nuansa filosofis perayaan 17 Agustus. Ini tahun adalah pengulangan ke-74 dari perayaan kemerdekaan Indonesia dan entah sejak kapan budaya lomba-lomba pragmatis-seremonial dilakukan terutama di tingkat akar rumput – dan entah kapan pula itu akan berubah. Dulu, saya sering mendengar bahwa aneka ragam lomba itu diadakan untuk memperkuat kerjasama dan kekompakan warga yang terlibat. Kini, sebuah pertanyaan besar terlintas, “Apakah hanya urusan kekompakan yang menjadi PR kita bersama di kehidupan bangsa ini?”

Sementara di saat yang bersamaan penetrasi digital, bibit individualisme, dan merosotnya kesadaran budaya masih luput dari hiruk-pikuk perayaan 17 Agustus di tingkat akar rumput. Tidak percaya? Silakan lihat sendiri apa yang anak-anak lakukan saat menunggu mulainya lomba; mabar dan/atau menonton anak lain yang sedang push rank. Di momen-momen demikian pula, anak-anak diajak menyanyikan dan menghafal lagu-lagu nasional yang sudah 11 bulan luput dari playlist kehidupan mereka sebab si orang tua merasa ‘B aja’ saat anaknya yang masih SD hafal lagu dangdut. Sementara pula, ajakan itu dilakukan bukan murni untuk memperkenalkan lagu-lagu yang selama 11 bulan hilang namun demi sebuah pertunjukan di malam puncak peringatan 17 Agustus. Demi menunjukkan ke masyarakat bahwa ternyata anak-anak masih bisa menyanyikan lagu Indonesia Merdeka atau Indonesia Pusaka dan menciptakan citra bahwa anak-anak menyukai lagu itu. Tidak peduli jika selama 11 bulan ke depan lagu itu akan tergusur dari playlist kehidupan mereka dan orang tua mereka!

Bukankah  itu wujud sebuah pragmatisme? Bukan ya? Oke, maaf.

Sebaliknya, bertirakat sejatinya mengajak kita memikirkan ulang aneka ragam masalah bersama yang sudah dilewati sebagai sebuah masyarakat – sebagai bagian dari sebuah bangsa bernama Indonesia. Bertirakat mengajak kita menyusuri jejak perjalanan kita, minimal selama setahun belakangan sejak perayaan kemerdekaan tahun lalu. Bertirakat mengajak kita menggali ulang hal-hal yang mungkin saja terlewat dalam perjalanan ini. Bertirakat dalam konteks 17 Agustus, jika mengadopsi konsep kepercayaan ala Jawa, adalah sebuah aktivitas untuk menaruh diri kita sebagai seorang manusia Indonesia seutuhnya dan lepas dari aneka  ragam subjek duniawi – dalam konteks ini contoh yang paling mashook adalah jabatan-jabatan kultural-politis.

Kenyatannya, mengadakan aneka ragam lomba yang meriah dan menarik memang perlu. Alasan yang paling sederhana adalah untuk menyenangkan anak-anak atau remaja di sekitar kita yang sudah menganggap 17 Agustus adalah hari yang identik dengan lomba-lomba. Hanya saja, adalah sebuah kelucuan jika menganggap tanggung jawab kita sebagai sebuah bangsa terhadap tanggal 17 Agustus adalah hanya sekadar untuk mengadakan lomba-lomba seremonial. Toh, apa hubungannya aneka ragam masalah kehidupan kita dengan lomba makan kerupuk selain sebagai sebuah short escape tanpa solusi yang mendasar.

Sikap bertirakat setidaknya dibutuhkan untuk menggali ulang langkah-langkah yang akan kita lakukan untuk menempuh perjalanan ke depan – kelak setelah bendera-bendera diturunkan dari tepian jalan, kelak setelah isu-isu politik mulai menyerang kehidupan kita. Sikap bertirakat juga setidaknya mampu membawa kita memahami bahwa memperkenalkan lagu kebangsaan dan merawat kebersamaan di tingkat akar rumput adalah sebuah kewajiban sehari-hari lewat laku sikap yang nyata, tidak melulu sebagai sebuah laku seremonial yang pragmatis.

Menggali ulang makna acara tirakatan dalam konteks 17 Agustus sejatinya akan membawa kita kembali ke masa silam, ke sebuah masa saat masyarakat kita diisi dengan orang-orang yang suka merenungkan keadaan. Alasan yang sama kenapa para pendahulu kita mempunyai intuisi dan kepekaan sosial pilih tanding sehingga tidak mudah diombang-ambingkan keadaan dan gemuruh zaman. Sementara kiwari ini, mari dilihat bersama, dalam berapa hari ke depan kita akan berseteru lagi setelah hari ini bersama-sama memekikkan  kata merdeka dan membuat snapgram berbau nasionalisme.

Btw, ndaftar lomba memasukkan botol dalam pensil di mana ya? Saya mau daftar nih!

Bagikan

Leave a Reply