Kita itu sebenarnya sedang tidur. Nah, besok baru akan bangun kalau kita sudah mati

Halo semuanya, bertemu lagi bersama website unyu dan lucu ini. Beberapa kawan bertanya kenapa sejak setelah lebaran kemarin mulai jarang ada konten di sini. Sejujurnya, saya sangat ingin terus mengisi website ini. Namun apa daya, perhatian saya saat ini sedang tercurahkan untuk mengembangkan kanal YouTube milik lembaga sosial yang saya kelola. Pada tulisan kali ini, saya tidak akan mengulik tentang  hal-hal berat  semacam politik.

Kemarin malam, saya  berbincang dengan seorang kawan lewat WhatsApp. Bukan perbincangan biasa dengan pembahasan yang juga biasa.  Bukan tentang janjian kongkow, analisa politik, dunia pergerakan, maupun isu yang sedang hangat ini hari. Kematian, ya, kami berdua berbincang tentang itu. Kamu tidak salah baca.

Perbincangan ini dimulai saat ia memposting story tentang meninggalnya seorang kawan SMP yang menderita meningitis. Kebetulan, saya pernah berjumpa dengan orang itu yang juga merupakan kawan satu organisasi seorang rekan saya SMA. Pun demikian, saya  tidak mengenalnya, hanya sebatas pernah bertemu.

Entahlah, dari dulu saya selalu merasa  agak awkward (saya tidak bisa menemukan diksi yang tepat dalam Bahasa Indonesia) jika mendengar ada seorang manusia muda yang meninggal. Tidak tahu pula kenapa alasannya namun jika mendengar demikian rasanya ada suatu tamparan besar yang kemudian menghinggapi. Perbincangan berlanjut saat saya  bercerita tentang kawan semasa SMP yang juga meninggal di usia yang masih amat muda pada Mei 2009 silam, tepat 4 hari sebelum ujian nasional.

Kawan saya itu kemudian bercerita tentang apa yang ada dibenaknya. Sebuah diksi yang sampai saat ini masih mengganggu benak saya ia keluarkan; sangu. Kata ini dalam Bahasa Indonesia berarti bekal. Maksud dia, bekal untuk menghadapi kematian kelak. Tamparan itu kembali datang saat ia menuliskan kata tersebut di WhatsApp. Perbincangan kami berlanjut dengan sharing ringan tentang konsepsi kematian di agama yang kami anut, di budaya masyarakat ateis, dan di drama Korea yang sering ia tonton.

Perbincangan itu sejatinya hanya singkat. Namun dari ketidaksengajaan itu  saya habiskan 2 gelas kopi dalam rentang waktu 4 jam demi merenungkan sebuah kata yang cepat atau lambat pasti akan datang; kematian. Angan liar saya berlabuh tak karuan, sejuta pertanyaan menghambur dari kepala beserta berbagai kilas balik perjalanan yang sudah saya lewati.

Dalam agama yang saya anut, kematian adalah salah satu fase yang akan dilewati semua mahluk hidup. Masih dari sumber yang sama, makhluk hidup sebenarnya mengalami 2 kali kematian. Satu kali sebelum ia hidup di dunia dan satu kali lagi pasca-kehidupan di dunia. Saya kemudian merenungkan banyak hal. Dosa, kesalahan, jejak langkah, dan hal-hal terlupakan dari kehidupan saya selama ini. Satu pertanyaan besar muncul kemudian menjelang habisnya kopi pertama malam itu; akankah semua itu berguna untuk menunjang perjalanan baru kelak, setelah kematian datang?

Satu gelas kopi saya seduh kembali sambil mengingat perjumpaan dengan seorang magister filsafat, 2 bulan silam. Kepada saya, ia bercerita tentang kehidupan yang sejatinya hanya ilusi. Hal itulah yang ia angkat dalam tesisnya. Tak lupa ia ceritakan pula dasar-dasar hadits nabi tentang hal itu. “Kita itu sebenarnya sedang tidur. Nah, besok baru akan bangun kalau kita sudah mati,” ujarnya kala itu di sebuah smoking room sebuah hotel di kawasan Malioboro. Waktu itu saya bisa cukup mengimbangi pembicaraan dengan melontarkan berbagai pertanyaan. Namun, tidak untuk saat ini. Tidak ada yang bisa saya tanyakan selain membayangkan dan merefleksikan semua-muanya.

Saya sejujurnya bukan tipe orang yang akan berubah hanya dengan nasehat. Kadang mendengarkan saja sudah ogah. Namun, hal-hal kecil seperti perbincangan via WhatsApp itu ternyata bisa membuat saya memikirkan ulang banyak hal. Playlist lagu-lagu Islam ala Jawa yang lama tidak saya putar, malam itu kembali berdendang menemani saya menghisap batang rokok sambil bertanya-tanya sekaligus membayangkan.

Jika saja dipikir lewat logika, maka alam dan kehidupan setelah kematian rasanya akan sangat tidak masuk akal. Menurut saya, itu berlaku untuk semua kepercayaan atau agama. Mulai dari jembatan yang tipisnya bagai rambut dibelah 7 hingga kesempatan reinkarnasi, semuanya terasa amat jauh dari  logika. Namun, saya malam itu juga mengingat sebuah perbicangan dengan bule ateis yang ia sendiri mengaku tidak punya bayangan apapun tentang apa yang terjadi setelah manusia mati. Baginya, kehidupan hanya datang sekali dan setelah itu selesai. Saya sempat ceritakan ini pula kepada kawan saya.

Menjelang habisnya kopi kedua, saya kemudian memantapkan diri bahwa kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang namun tidak perlu (terlalu – amat terlalu) ditakutkan. Saya merasa, kewajiban manusia yang masih hidup adalah melakukan sebaik yang ia bisa. Baik dalam konteks sosial, kebermanfaatan, kehidupan pribadi, dan juga agama. Terasa seperti anti klimaks memang, namun apalah daya nalar manusia membayangkan alam setelah kematian. Sementara, dalam agama yang saya anut, memang (sengaja) tidak semua misteri itu dibuka luas oleh Tuhan. Ibarat kata, yang ada hanyalah clue yang amat banyak hingga kita bingung menyusunnya, apalagi menganalisa.

Sekali lagi, saya percaya pelajaran bisa datang dengan banyak cara. Dari perbicangan itu saya merasakan (agak) meluruhnya bara yang beberapa waktu bersemayam dalam diri. Padahal, entah sudah berapa cara yang saya coba untuk meluruhkannya. Entah berapa kawan pula yang sudah menasehati saya tentang hal itu – dan tidak berhasil. Satu perbedaan juga muncul saat itu pula namun saya enggan membukanya di sini.

Akhir  kata, tulisan ini bukan berarti apa-apa. Bukan pula sebuah ceramah apalagi nasehat. Sejujur-jujurnya, ini adalah media saya menghabiskan tanda tanya yang masih berputar-putar pasca perbicangan kami semalam. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada kawan saya tersebut atas kesempatannya membicarakan suatu hal yang amat sangat jarang saya lakukan dengan orang lain – karena juga jarang menemukan momentum yang tepat.

Dan saat tadi pagi saya bangun tidur, satu nasehat Jawa dan satu kutipan tokoh favorit saya entah dari mana datangnya menabrak kepala saya. Pertama,  bahwa, sejatinya urip iku kudu urup (hidup harus menyala). Dalam arti, bahwa hidup harus bermanfaat bagi sesama. Kedua, Tan Malaka yang pernah menuliskan suaraku akan lebih lantang dari dalam kubur. Dua kutipan (atau juga nasehat), yang saling berkelindan satu sama lain. Dan saya memutuskan tidur lagi setelah keduanya menabrak kepala.

Bagikan

Leave a Reply