Aku dipuja seperti dewa dan dicaci seperti bandit. Demikian salah satu ungkapan Bung Karno atas popularitas dirinya yang ia sampaikan ke Cindy Adams saat wawancara untuk penulisan otobiografinya pada tahun 1961, lima tahun sebelum ia kehilangan kuasa dan segala-galanya. Dalam kesempatan itu, Bung Karno juga bercerita tentang tempat ia ingin dimakamkan kelak setelah tiada.

Aku mendambakan bernaung di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus. Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan. Benar-benar keindahan dari tanah airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal. Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk, bergunung-gunung dan subur, di mana aku pertama kali bertemu dengan petani Marhaen, demikian ujar Bung Besar seperti yang dicatat Cindy Adams.

Lima tahun setelah wawancara itu, Sukarno kehilangan kuasanya setelah gagal mengontrol rimpel in de geweldidge oceaan, istilahnya untuk kejadian penculikan 7 jenderal teras Angkatan Darat – yang hingga hari ini dikenal sebagai kejadian G30S/PKI. Puncaknya terjadi pada 11 Maret 1966 saat 3 ajudan Suharto meminta Sukarno mengeluarkan (atau dipaksa mengeluarkan?) Supersemar – akronim dari surat perintah 11 Maret. Bagi Sukarno, surat ini adalah pemberian weweneng pada Suharto sebagai pelaksana tugas untuk mengamankan situasi pasca kejadian 30 Oktober 1965. Namun, bagi Suharto, Supersemar adalah surat pemberian jabatan eksekutif pada dirinya. Bagian ini bisa kita temukan pada buku Revolusi Belum Selesai yang berisi kumpulan pidato Sukarno pasca 30 Oktober 1965.

Sukarno boleh saja terus menyerukan bahwa Supersemar bukanlah surat penyerahan jabatan presiden, namun di luar sana Suharto terus bergerak atas interpretasi pribadinya terhadap surat yang sampai kini misterius itu. Tidak hanya sekadar memukul (baca : menghabisi) para anggota PKI beserta pembesarnya sekaligus mereka yang diduga anggota PKI, ia juga menangkapi para politisi dan menteri-menteri yang mayoritas adalah para loyalis Sukarno. Coup de etat – kudeta merangkak – jika merujuk istilah para sejarahwan asing, bergerak pelan namun pasti untuk mencopoti kekuasaan Putera Sang Fajar.

Halaman sejarah selanjutnya, Suharto memberikan status tahanan kota pada Sukarno dan mengusirnya dari Istana Merdeka, satu-satunya tempat tinggal yang Sukarno miliki. Mulanya, ia ditahan di Istana Batu Tulis, Bogor lalu dipindahkan ke Wisma Yaso, rumah salah satu istrinya yaitu Ratna Sari Dewi Sukarno. Selama penahanannya itu, Sukarno juga terus diperiksa oleh Kopkamtib atas dugaan keterlibatannya dengan kejadian G30S/PKI.

Suharto menempuh cara ini untuk menjauhkan pengaruh sang Bung Besar pada rakyatnya. Ia sadar ia sedang berhadapan dengan seorang pemimpin besar – yang terlepas dari segala kontroversi atas kebijakannya – ia tetaplah dicintai banyak orang dan masih punya kekuatan politik yang cukup andai saja ia ingin melawan balik apa yang dilakukan sang suksesor. Setidaknya, TNI Angkatan Udara dan Angkatan Laut masih menyatakan setia terhadap Sukarno dan tinggal menunggu perintah. Untuk alasan yang sama juga, semua potret Sukarno di Istana Merdeka diturunkan.

Apakah Sukarno ditahan dalam kondisi yang baik-baik saja? Jawabannya adalah tidak. Ia ditahan dalam kondisi fisik yang teramat lemah karena penyakit ginjal dan berbagai komplikasi lainnya. Belakangan, tim dokter yang mendampingi Sukarno dibubarkan oleh rezim Suharto, hampir bersamaan dengan dibubarkannya resimen pengawal presiden Cakrabirawa. Secara psikologis, Sukarno juga benar-benar diasingkan. Keluarganya sendiri bahkan harus mendapatkan izin dari Kopkamtib hanya demi bisa bertemu sang singa podium.

Fase sejarah ini luput dari sejarah versi pemerintah hingga saat ini. Catatan tentang fase ini bisa ditemukan di buku Penjaga Terakhir Sukarno yang ditulis oleh Maulwi Saelan, Wakil Komandan Cakrabirawa terakhir yang masih turut menyertai Sukarno pasca-terusir dari Istana Merdeka. Maulwi berkisah bagaimana si bung hanya disediakan obat-obatan yang sama sekali tidak lagi cocok untuk penyakit yang dideritanya. Sang wakil komandan juga bercerita bagaimana ia harus meminta izin khusus demi bisa mendatangkan obat yang dibutuhkan Sukarno. Di buku yang sama, Maulwi juga merekam bagaimana tentara pernah menginterogasi seorang wanita yang tidak sengaja bertemu Sukarno saat statusnya sudah menjadi seorang tahanan kota. Agaknya, Suharto benar-benar ingin menjauhkan Sukarno dari rakyat yang amat sang singa podium cintai.

Belakangan, pemerintahan Suharto memindahkan Sukarno ke Jakarta, tepatnya ke Wisma Yaso, dalam kondisi kesehatannya yang juga tidak membaik. Jika merujuk ke otobiografi Suharto berjudul Suharto, Ucapan, Tindakan, dan Ucapan Saya langkah ini diambil karena udara Bogor yang dingin dan baik untuk kesehatan Sukarno – sebuah pernyataan yang sesungguhnya ironis. Maka, kematian daripada Sukarno sesungguhnya tinggallah menunggu waktu. Upaya ini bahkan telah dimulai sejak lama, sejak bagaimana rezim Suharto menetapkan status tahanan kota pada Sukarno.

Hari ini 49 tahun silam, Sukarno akhirnya berpulang. Sebelumnya sang Smiling General melarang sang bung besar datang ke pernikahan Guntur Sukarnoputera dan mengutus Hatta sebagai wakilnya – atas dasar agar Sukarno tidak bisa bertemu rakyat yang masih menyimpan hormat padanya. Kisah ini ternyata terulang lagi pasca-meninggalnya Sukarno. Adalah Fatmawati yang meminta Suharto agar jasad Sukarno disemayamkan terlebih dahulu di kediamannya sebagai pertemuan terakhir mereka. Belakangan, permintaan ini ditolak pemerintah.

Permintaan agar Sukarno dimakamkan sesuai wasiatnya yang dikisahkan pada Cindy Adams juga ditolak. Bagi beberapa ahli sejarah, langkah ini adalah cara daripada Suharto agar jasad Sukarno berada agak jauh dari pusat kekuasaan sehingga makamnya, jika tidak berada di Priangan, area Jawa Barat, tidak akan menjadi tempat berkumpulnya para pendukung Sukarno – sesuatu yang ditakutkan akan menggoyahkan pemerintahan Suharto.

Merujuk pada Suharto, Ucapan, Tindakan, dan Ucapan Saya, pemerintah Suharto kemudian memutuskan bahwa Sukarno dimakamkan di Blitar, di samping pusara sang ibu. Masih merujuk pada buku yang sama, langkah ini diambil atas interpretasi pemerintah (baca: Suharto) bahwa semasa hidupnya Sukarno amat sangat mencintai ibunya.

Apapun cara yang pernah diambil pemerintah Orde Baru untuk mengerdilkan sosok Kusno Sosrodiharjo, nyatanya cara itu tidak dan tidak akan pernah cukup. Adagium berkata bahwa sejarah ditulis oleh pemenang. Sukarno memang kalah telak di akhir hayatnya, ia dijauhkan dari rakyat dan keluarga yang mencintainya. Pancasila bahkan pernah ingin diganti oleh sebuah rezim berusia 32 tahun sebagai penemuan seorang Mohammad Yamin, bukan Sukarno. De-sukarnoisasi bahkan berlangsung entah berapa tahun sejak sang Smiling General naik tahta.

Namun, Sukarno selalu punya cara untuk menuliskan ceritanya sendiri. Ia, terlepas dari segala kontroversi bahkan misteri yang melingkupi hidupnya, telah punya cara sendiri untuk menuliskan kisah-kisahnya yang terus mengabadi setelah 49 kepergiannya dan sulit untuk tergantikan (atau diganti).

Bagikan

Leave a Reply