Sekitaran Thamrin, Jakarta, 21-22 Mei 2019 adalah neraka dadakan yang tercipta dari sebuah konstelasi politik bernama pilpres 2019. Ya, bisa jadi itu sebuah aksi dari massa bayaran seperti kata sebuah kotak plastik dengan layar kaca bernama televisi. Atau, bisa juga itu terjadi untuk kemudian ditunganggi para penyusup yang ingin membunuh 4 pejabat negara seperti kata bapak purnawirawan jenderal yang itu. Intinya, Chaos tercipta hanya dalam hitungan jam. Kerusuhan dan demonstrasi meluas hingga ke area-area di sekitarnya.

Kecaman memang datang dari berbagai pihak yang menyayangkan terjadinya peristiwa itu. Sebuah peristiwa yang berakar pada kekecawaan sekelompok orang atas hasil pemilu, utamanya pilpres. Sebuah peristiwa dalam hitungan kasar 2 hari yang kemudian mengisi diskusi-diskusi  di ruang pemberitaan baik online maupun offline. Baik media cetak, media elektronik, maupun media abal-abal. Kecaman semakin keras berhembus saat pihak kepolisian mengatakan bahwa para perusuh – istilah pihak kepolisian untuk para peserta aksi rusuh 21-22 Mei kemarin – adalah massa bayaran.

Pemberitaan yang beredar, alih-alih mencerahkan, rasanya malah membuat bingung kalangan masyarakat awam. Sejak awal-awal adanya rusuh tersebut, informasi tentang jatuhnya korban menjadi sebuah kabar burung yang simpang siur. Lucunya lagi, keterangan yang paling pertama tentang jumlah korban meninggal malah disampaikan oleh seorang gubernur. Ingatkan jika saya salah, namun rasanya pihak keamanan bahkan sampai saat ini belum menyampaikan informasi resmi terkait jumlah korban. Belum lagi, sejak beberapa hari terakhir muncul dugaan berbagai pihak besar tentang dalang peristiwa tersebut. Mulai dari eks anggota Tim Mawar Kopassus hingga Keluarga Cendana.

Komnas HAM belakangan mengonfirmasi angka 9 sebagai jumlah korban yang meninggal dengan 2 korban yang terkena peluru tajam. Tentang fakta ini, beberapa orang pun mungkin sudah tahu lewat rekaman video yang beredar di media sosial sesaat sebelum WhatsApp sempat di blokir. Fakta lain yang terlupakan, adanya salah tangkap terhadap beberapa orang selama aksi tanggal 21-22 Mei kemarin. Yang lagi-lagi, tidak masuk ke pemberitaan arus utama.

Bagi masyarakat umum yang ingin tahu tentang 2 fakta di atas, rasanya harus bersabar agak lama. Sampai saat ini, pemberitaan pasca kejadian 21-22 Mei kemarin belum menyentuh ke pembahasan para korban. Alih-alih memberitakan tentang siapa para korban dan bagaimana mereka meninggal dalam peristiwa tersebut, media masih terus sibuk memberitakan sisi lain kejadian itu yang kalau saya boleh bicara jujur: bikin pusing.

Lha bagaimana tidak pusing saat para rakyat kecil disuguhkan dengan pemberitaan seputar dugaan makar beberapa tokoh kaliber nasional, termasuk dua orang purnawirawan jenderal. Lebih pusing lagi saat muncul berita tentang jual beli (versi lain mengatakan penyeludupan) senjata untuk aksi 21-22 Mei kemarin. Rasanya, peristiwa tersebut kok sedemikian rawr dengan persiapan dari pihak tertentu untuk mempersenjatai para perusuh. Eh tapi kok yang dipakai buat menembak helikopter tetap petasan, bukan M-16 gitu?  Apa iya para rakyat kecil harus membuka arsip berita lama di internet supaya paham serangakaian peristiwa itu? Plis, kami sudah pusing memikirkan nasib yang begini-begini saja. 🙁

Di saat yang bersamaan, minimal ada 18 laki-laki dan perempuan yang masih terus mempertanyakan apa yang sesungguhnya menimpa anak mereka di  malam jahaman itu; bagaimana bisa mereka meregang nyawa, itu peluru milik siapa, dan kenapa negara mlipir (kalau media lain mengatakan absen, saya tidak berani mengatakan itu) saat seharusnya memberikan keterangan. Sementara, ingin mengadukan pun tidak tahu kepada siapa. Mau bagaimanapun, kehilangan anak tentu sebuah pukulan mental dan psikologis yang akan menciptakan trauma dan kesedihan mendalam. Apalagi, jika penyebabnya terus berwarna abu-abu.

Tidak lantas hanya karena mereka masuk ke dalam kelompok perusuh maka layak dibiarkan pergi begitu saja dalam ranah abu-abu. Klarifikasi dan pembuktian tetap perlu ditunjukkan ke khalayak ramai supaya isu-isu tersebut tidak menjadi sebuah bola liar yang dipenuhi praduga. Apalagi, sudah ada 2 korban yang terkonfirmasi meninggal karena tertembus peluru tajam. Ini tentu bukan perkara sepele sebab bisa menjadi sebuah bumerang bernama anggapan miring terhadap pihak keamanan jika tidak diikuti dengan kejelasan kabar. Itu tentu harus melewati uji forensik untuk membuktikan proyektil tersebut merupakan standar milik pihak keamanan atau bukan. Tidak cukup hanya sekadar lewat keterangan bahwa pihak keamanan tidak menggunakan peluru tajam selama pengamanan aksi kemarin.

Ini adalah era reformasi dan keterbukaan informasi. Ini bukan era jadul saat negara lewat institusinya bisa seenaknya main tembak dengan dalih mengamankan negara. Ini adalah era saat para warga negara bisa mendapatkan informasi dengan amat sangat mudah sebab kotak bernama televisi bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Namun, sayang seribu sayang, fakta ini masih jarang diingat sebab terlalu banyak orang yang overdosis televisi dan menganggap kejadian 21-22 Mei kemarin sudah berakhir pasca pembubaran oleh pihak keamanan. Dan mungkin mereka menganggap para pesertanya langsung pulang ke rumah masing-masing dengan gembira sambil bernyanyi. Ha mbok kira iki bar nonton konser???

Tanpa adanya kejelasan informasi yang disampaikan, rasanya bukan tidak mungkin Thamrin akan bernasib sama dengan sebuah wilayah bernama Semanggi, yang sama-sama berada di Jakarta. Semanggi, adalah latar belakang dua tragedi besar (namun terlupakan) yaitu tragedi Semanggi I dan II yang masing-masing terjadi tahun 1998 dan 1998. Tanpa adanya kejelasan informasi yang disampaikan, praduga akan terus muncul (atau dimunculkan?) dan membuat bola liar bergerak semakin liar. Tanpa adanya kejelasan informasi, catatan kelam pelanggaran HAM bangsa ini rasanya harus ditambah lagi.

Bagikan

Leave a Reply