Mereka, pihak-pihak yang berada di area abu-abu itu, bisa menunjukkan kepada kita semua, ‘massa bayaran’ tidak hanya sekadar bisa show-off sambil bawa poster dan menunggu nasi kotak untuk menyenangkan yang menyuruh namun bisa pula mencoba menembak helikopter dengan petasan

 

Awal minggu kemarin, publik Indonesia dikejutkan dengan aksi massa berbuntut kericuhan di Jakarta. Ini adalah buntut (sekaligus lanjutan – walaupun diduga dilakukan massa yang berbeda) dari aksi damai penolakan hasil pemilu oleh pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga. Bagi beberapa kalangan, kejadian ini rasanya tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, agitasi di sosial media sudah tersebar sejak beberapa hari sebelumnya dengan narasi perjuangan khas agama tertentu.

Masa bayaran, demikian sebut beberapa orang disekitar kami saat melihat ulah mereka lewat layar kaca. Jika merujuk ke istilah yang disematkan pihak aparat keamanan, mereka adalah perusuh – kelompok yang memang sengaja menuju area sekitar gedung Bawaslu, Tanah Abang, atau Thamrin untuk berbuat rusuh. Dihimpun dari berbagai sumber pemberitaan, massa perusuh ini muncul pada malam hari tanggal 21 Mei 2019. Di siang hari tanggal yang sama, terdapat pula aksi damai penolakan hasil pemilu yang kemudian berakhi tertib setelah jam buka puasa.

Bukan kaleng-kaleng, kalau meminjam istilah anak muda zaman now, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menyebut aksi rusuh dari tanggal 21-22 Mei 2019. Bagaimana tidak, aksi massa anarkistis khas Indonesia yang biasanya hanya bertahan dalam hitungan jam, khusus untuk aksi rusuh 21-22 Mei 2019 kemarin bisa berlangsung cukup lama dengan perhitungan kasar 12 jam. Ini di mulai dari Senin (21/06) malam hingga Selasa (22/6) malam.

Terkait pelaku, pihak kepolisian sendiri mengatakan bahwa mereka merupakan perusuh bayaran. Walaupun demikian, kami tidak sepenuhnya percaya bahwa bayaranlah yang membuat mereka mau dan berani melakukan hal senekat itu. Ada motivasi lain selain sekadar uang yang membuat mereka mau dan berani head-to-head dengan aparat, menendang peluru gas air mata seenak menendang bola plastik, dan masih bertahan di jalanan bersenjatakan petasan serta batu dengan berbagai kemungkinan buruk. Logikanya, hal itu mustahil mereka lakukan jika tidak ada motivasi lain.

Bayaran tetaplah ada, kami yakin itu. Namun, dalam kacamata kami, uang dan amplopan bukanlah satu-satunya hal yang menggerakan massa. Entah itu murni kebencian pada pemerintah, agitasi berbalut agama yang sukses, atau para radikalis garis keras anti-NKRI yang mulai keluar dari sarang, ada hal besar lain yang harus sama-sama dijawab daripada sekadar kepo, “Berapa sih duit yang mereka dapat?”

Hal lain yang membuat kejadian kemarin bukan kaleng-kaleng adalah jumlah korban yang cukup besar. Rusuh massa bahkan belum sepenuhnya usai saat Anies Baswedan mengatakan ada 6 orang yang meninggal dunia akibat kejadian tersebut. Tentang hal ini, sampai saat ini rasanya pun masih sulit mengetahui berapa jumlah pasti korban meninggal karena pihak kepolisian belum menyampaikan informasi resmi.

Yang pasti, ada korban yang meninggal karena terkena peluru tajam. Sementara, kepolisian menyatakan mereka tidak menggunakan peluru jenis ini. Bagi yang belum tahu, jenis peluru yang digunakan dalam penjagaan demonstrasi antara lain adalah peluru karet dan tembakan gas air mata. Di tengah huru-hara, polisi mengatakan bahwa mereka menyita beberapa pucuk senjata api dari tangan para provokator yang tertangkap. Hingga saat ini, penyebab korban meninggal masihlah abu-abu.

Di luar itu, masih ada pula ‘korban lain’ dari huru-hara itu. Kerugian masyarakat sekitar, kendaraan yang dibakar, dan kerusakan fasilitas publik adalah beberapa diantaranya.

 

Sang Pemenang

Siapa yang menang dalam huru-hara kemarin?

Polisi kah? Karena mereka berhasil memukul mundur massa walaupun berulang kali gagal membujuk massa secara persuasi. Atau, para peserta demonstrasi (baca : kerusuhan) karena berhasil membakar puluhan kendaraan, membuat situasi tiba-tiba kacau balau, dan membuat para anggota BRIMOB harus tidur di jalanan sekitar gedung Bawaslu.

Jawabannya adalah : bukan kedua-duanya.

Ya, siapa yang kita harapkan menang dalam aksi-aksi semacam itu. Apalagi, motivasi massa perusuh dalam kejadian kemarin sebenarnya janggal – kecuali jika memang mereka datang untuk membuat onar. Sekeras apapun mereka bertahan dan menyerang, lawan mereka adalah aparat terlatih. Apalagi, kekuatan politis mereka amat sangat lemah. Inilah yang membedakan aksi (yang ceritanya) people power kemarin dengan rangkaian demonstrasi reformasi 1998.

Di tahun 1998, para mahasiswa mengantongi dukungan banyak pihak karena memang banyak yang ingin reformasi terjadi. Mereka sudah konsisten turun ke jalan dengan konsep yang jelas sejak bertahun-tahun sebelumnya – dan mereka telah menjelma menjadi sebuah gerakan. Yang terakhir, mereka punya tujuan politis yang jelas dan mendapatkan dukungan banyak pihak dari berbagai latar belakang seperti politisi, seniman, dan kalangan buruh. Mengingatkan saja, salah satu pendukung gerakan mahasiswa adalah Amien Rais yang akhir-akhir ini menjadi sorotan media.

Jawaban paling jujur dan mungkin menyakitkan adalah, mereka yang menang, adalah oknum-oknum besar di belakang kejadian kemarin yang berhasil menggerakan ribuan massa dengan cara mereka mengagitasi. Entah itu lewat isu kecurangan pemilu, melawan rezim yang zalim, atau pengerahan isu agama. Contohnya, tanpa adanya oknum, sulit rasanya melihat para perusuh tersebut tiba-tiba punya petasan dalam jumlah yang besar untuk mempersenjatai diri (dan mencoba menembak helikopter)

Ya, mereka menang sebab bisa menunjukkan kepada khalayak ramai bahwa di tengah-tengah kita, banyak orang yang sangat mudah terprovokasi, tiba-tiba kehilangan akal sehat setelah dihajar isu agama dan kezaliman, serta begitu mudah dengan seruan jihad. Mereka menang, sebab mampu menggerakan massa untuk mengadu diri mereka sendiri (beserta kekonyolannya – untuk tidak mengatakan kebodohan) dengan aparat keamanan. Mereka, pihak-pihak yang berada di area abu-abu itu, bisa menunjukkan kepada kita semua, ‘massa bayaran’ tidak hanya sekadar bisa show-off sambil bawa poster dan menunggu nasi kotak untuk menyenangkan yang menyuruh namun bisa pula mencoba menembak helikopter dengan petasan dan mengoleskan pasta gigi ke wajah untuk mengurangi efek gas air mata.

Lantas, siapa oknum-oknum itu? Jawaban sederhananya adalah mereka yang sudah mulai gabut melihat Indonesia yang adem ayem, yang merasa terancam jika masyarakat Indonesia hidup tanpa perpecahan, yang merasa gagasan mereka paling benar tanpa mau mengkaji ulang dengan melihat kondisi budaya Indonesia. Lupakan kubu 01 dan 02, Bung! Kita hidup di era post-truth saat kebenaran menjadi sesuatu yang semu dan begitu mudah diciptakan.

Sebenarnya, tulisan ini masih sangat panjang. Namun, karena sekarang bulan Ramadan, kami enggan disebut berghibah dan membuat pahala puasa kami berkurang. Biarkan kami mencoba merekam sedikit saja kejadian kemarin dan doa kami tetaplah sama. Bahwa semoga tidak terulang lagi kejadian konyol dan membosankan ini di masa mendatang.

Musuh kita ada banyak, Bung! Buat apa petasan masih kamu gunakan saat negara-negara lain sibuk merancang roket antar benua dengan jarak tempuh ribuan kilometer. Ndeso ah! Tuh lihat, Amerika ketawa!

Bagikan

Leave a Reply