Tidak ada yang salah sebenarnya dengan berbuka bersama rekan-rekan kita di resto yang hits. Yang kemudian salah adalah saat kita melupakan ada orang-orang terdekat yang selalu memimpikan buka bersama kita sambil menanyakan kabar pekerjaan, kuliah, atau kisah cinta yang kita jalani.

Bicara tentang datangnya bulan puasa, apa yang terbayang di benak kita sesungguhnya? Memperbanyak ibadah, khatam Alquran dalam satu bulan, salat tahajud, atau memperbanyak ikut kajian? Lupakan semua itu dan mari jujur pada diri kita sendiri. Sejak jauh-jauh hari yang terbayang di sebagian dari kita adalah betapa padatnya jadwal buka puasa bersama.

Bagi para generasi tua, tradisi ini mungkin sederhana. Berbuka di masjid kampung bersama tetangga, didahului dengan pengajian, lalu ditutup dengan salat Magrib berjamaah. Tapi bagaimana dengan tradisi ini pada kehidupan generasi milenial zaman now? Yang ada ialah buka bersama di resto terkenal nan hits dengan menu-menu yang namanya aneh itu, mengenakan dresscode tertentu, dan terkadang diselipi hiburan serta pembagian hadiah. Yang hadir pun tidak mengenakan sarung, baju koko, dan kopiah namun mengenakan setelan yang OOTD.

Fakta lain dari tradisi buka puasa bersama di kalangan generasi milenial adalah jadwalnya yang begitu padat merayap. Mirip kondisi jalan tol saat arus mudik lebaran. Ini menjadi padat sebab bisa dipastikan setiap kelompok mengadakan buka bersama. Mulai dari kelompok alumni TK hingga universitas, kelompok teman mabar, kelompok teman kantor, kelompok teman bermain, hingga paguyuban mantan dan gebetan. Ini masih di luar jaringan pertemanan lain seperti organisasi sosial, geng yang kita ikuti, dan kelompok arisan.

Fenomena ini rasanya normal-normal saja. Tidak ada yang salah selama si peserta buka bersama sanggup membayar. Namun mari sejenak tinggalkan resto tempat kita bersenda gurau dan menuju ke ruang makan rumah kita masing-masing. Ini berlaku terutama untuk mereka yang tidak indekos atau LDR dengan orang tua. Bisakah kita membayangkan perasaan ibu kita saat anak-anaknya punya jadwal buka puasa bersama yang bejibun. Sampai-sampai, lebih dari separuh bulan rRamadan dihabiskan sang anak dengan berbuka bersama rekan-rekannya.

Sampai di titik ini mungkin tidak ada yang salah. Namun, mari coba beranjak ke meja makan rumah kita masing-masing, tempat di mana ada sebuah hasil perjuangan seorang ibu berada. Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah makanan. Rasanya, tidak berlebihan mengatakan bahwa sayur lodeh, tempe goreng, sebakul nasi, atau perkedel adalah hasil perjuangan seorang ibu.

Saat memasak, seorang ibu harus menaruh konsentrasi penuh. Jika tidak, maka bersiap saja makanan itu nantinya kurang enak. Seorang ibu juga harus bisa mengesampingkan moodnya selama memasak, tak peduli hatinya sedang senang atau sedih, ia tetap harus berkonsentrasi. Ini berlaku untuk setiap harinya, saat sang ibu menyiapkan sarapan di pagi hari atau, karena ini bulan Ramadan, saat ibu kita menyiapkan menu berbuka puasa.

Terlalu klise memang saat kita menghubungkan antara penghormatan terhadap ibu dengan makanan. Namun mari coba kita bayangkan, tidakkah seorang ibu senang dan bahagia saat anak-anaknya menghabiskan makanan yang sudah ia siapkan, syukur-syukur diimbuhi dengan pujian. Saya yakin bahwa semua ibu akan senang mendapatkan perlakuan begitu. Saya yakin pula, ibu kita akan sedih jika ia sudah repot-repot menyiapkan menu berbuka puasa untuk sang anak namun ternyata dalam 30 hari ramadhan anaknya buka bersama di luar sebanyak 21 kali.

Baiklah, mungkin ibu kita seorang wanita karir dan tidak sempat memasak. Beliau mungkin hanya membeli kudapan takjil di perjalanan sepulang kantor. Namun, jauh lebih dari itu, ada satu hal lain yang hilang saat kita sebagai anak terlalu sering menghabiskan waktu berbuka di luar rumah. Kebersamaan bersama keluarga, itulah yang akan hilang dan tidak akan pernah tergantikan.

Mari bayangkan jika saja kita menjadi orang tua dan menanti-nanti saat berbuka puasa untuk sekadar bercengkerama bersama anak-anaknya. Namun, apa yang terjadi adalah kita harus menyantap menu berbuka hanya dengan suami atau istri kita, atau bahkan seorang diri. Sementara, sang anak bersenang-senang di luar sana bersama rekan-rekannya. Sementara, mungkin kita sudah menyiapkan menu-menu spesial untuk sang buah hati.

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan berbuka bersama rekan-rekan kita di resto yang hits. Yang kemudian salah adalah saat kita melupakan ada orang-orang terdekat yang selalu memimpikan buka bersama kita sambil menanyakan kabar pekerjaan, kuliah, atau kisah cinta yang kita jalani.

Saya selalu yakin, membuat bahagia orang tua sejatinya bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Mulai dari yang sederhana sampai yang harus mengeluarkan biaya, semuanya tersedia. Termasuk, membuat ibu kita bahagia dengan sebisa mungkin menikmati dan menghabiskan masakan yang sudah beliau siapkan.

Ibu saya selalu melontarkan guyonan jika kami, anak-anaknya, baru saja buka bersama di luar rumah. “Bagaimana? Enak tidak menu buka kemarin? Ah, tetap lebih enak masakan Ibu walaupun cuma tahu-tempe,” demikian ujar beliau.

Maka, sepertinya bulan Ramadan juga akan beririsan dengan bagaimana kita menghormati ibu secara nyata di keseharian masing-masing. Bagaimana kita menghayati perjuangan yang mungkin paling sederhana untuk ukuran seorang ibu; memasak. Adalah pilihan sekaligus hak kita: mau terlalu sering menghabiskan waktu buka puasa bersama di luar rumah atau menemani ayah ibu kita di rumah?

Tahun depan atau lusa, kita tetap bisa melakukan hal pertama. Teman akan terus datang silih berganti. Namun, hal yang sama tidak tentu terjadi pada hal kedua.

Bagikan

Leave a Reply