Mari mengingat dan belajar, mahasiswa Indonesia pernah amat perkasa. Kampus pernah benar-benar diisi mahasiswa yang agent of change, yang melek dan sadar politik

 

Apa yang generasi milenial ingat tentang tanggal 12 Mei? Atau, mari coba bertanya kepada kalian yang menyandang gelar prestisius; mahasiswa. Apakah kelompok satu  ini tahu banyak tentang apa yang terjadi pada tanggal 12 Mei? Rasa-rasanya jawabannya, “Mmm… Anu, Mas. Pernah dengar sih,”

Banyak orang yang tahu, sebuah orde bernama orde baru pernah berkuasa di atas bumi Indonesia selama 32 tahun (1966-1988). Banyak juga yang mungkin tahu, orde itu berakhir setelah gelombang kerusuhan besar melanda berbagai kota di Indonesia pada 1998 silam. Namun, nama-nama seperti Hendriawan Sie, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Elang Mulya Lesmana hari ini rasanya semakin memudar seiring memudarnya semangat reformasi yang pernah bergema di ruas jalanan ibukota.

Mari kembali ke jalanan ibukota 21 tahun lalu. Di bulan Mei, tepatnya pada 21 Mei, Jenderal Suharto memutuskan untuk menyatakan berhenti sebagai presiden daripada Republik Indonesia. Ini menjadi sebuah puncak perjuangan jutaan rakyat Indonesia yang terbagi dalam berbagai kelompok yang selalu menyuarakan agar sang jenderal segera lengser keprabon.

Yang tidak banyak orang tahu, jalan menuju konferensi pers daripada Suharto pada 21 Mei 1998 pagi adalah jalan panjang yang berdarah-darah dan dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat. Jalan itu bahkan sudah dimulai sejak puluhan tahun sebelumnya. Sebagai contoh, demo penolakan terhadap Suharto yang dianggap mulai sewenang-wenang oleh mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung – kampus tempat Sukarno pernah belajar arsitektur) yang berakhir dengan 2X pendudukan dan penutupan kampus ITB oleh pihak militer pada 1978.

Memasuki dekade 1990-an, gejolak di kalangan aktivis lintas profesi mulai dari buruh, seniman, hingga mahasiswa juga tidak kunjung surut. Pembubaran organisasi-organisasi mahasiswa yang diharapkan memutus mata rantai aktivisme ternyata tetap tidak mempan. Para mahasiswa bergerak di bawah tanah dengan mendirikkan berbagai LSM yang kebanyakan diawali huruf F – singkatan kata forum. Pemukulan paksa terjadi di hampir semua basis perlawanan.

Di dekade itu pulalah, salah satu tonggak perlawanan terhadap rezim bernama peristiwa Kudatuli (kerusuhan 27 Juli 1996) terjadi dan mengorbankan banyak nama yang hingga saat ini hilang. Salah satunya, seniman sekaligus aktivis, Wiji Thukul. Namun, jalan masih terjal dan berliku. Beberapa korban penculikan pasca kerusuhan itu yang sudah bebas kini telah menjadi tokoh tingkat nasional, termasuk menjadi anggota parlemen.

Yang juga tidak banyak  orang tahu, penembakan 4 mahasiswa Universitas Trisakti pada sore hari 12 Mei 1998, saat mahasiswa membubarkan diri dari aksi damai, hanya salah satu fragmen dari perjuangan panjang menurunkan rezim. Sepanjang 1998 pula, gejolak terjadi di kalangan aktivis mahasiswa. Banyak pemuda zaman now yang mungkin bertanya-tanya, “Kenapa mereka mau melakukan semua itu? Kurang kerjaan banget sih,”

Jawaban dari pertanyaan itu sebenarnya berhubungan dengan krisis ekonomi yang mulai terasa sejak beberapa tahun sebelumnya. Banyak mahasiswa, terutama yang berasal dari kalangan menengah, terancam tidak mampu meneruskan studi mereka karena orang tua mereka terdampak krisis ekonomi. Jika banyak yang lupa, krisis ini membuat gelombang PHK terjadi di mana-mana, tutupnya banyak perusahaan, dan inflasi besar-besaran. Belum lagi, aspek budaya saat demonstrasi menjadi tren di kalangan anak muda saat itu.

Krisis ekonomi ini pula yang menjadi salah satu pemicu kerusuhan besar-besaran pada kurun 12-15 Mei 1998. Meninggalnya 4 mahasiswa Trisakti membuat amarah mahasiswa paripurna sudah. Mereka  kemudian bercampur dengan masyarakat umum yang juga memutuskan turun ke jalan. Lalu, krisis moneter yang menerpa lapisan bawah masyarakat membuat mereka menjadi nekat dan melakukan aksi-aksi anarkis untuk menyalurkan amarah mereka. Penjarahan besar-besaran, pembakaran pusat perbelanjaan, dan perusakan fasilitas publik terjadi secara luas di berbagai kota besar Indonesia. Ini belum termasuk kerusuhan rasial yang mengkambing hitamkan warga keturunan Cina yang jika ditinjau akan membawa kita ke diskusi yang lebih luas.

Lantas, apakah peristiwa 12 Mei peristiwa terakhir menjelang keruntuhan rezim dan terkabulnya tuntutan para demonstran? Jawabannya adalah tidak. Pekik dan tuntutan reformasi sejatinya tidak hanya tentang penurunan sang Smiling General dari tahtanya. Ia juga berisi tuntutan-tuntutan lain yang lebih kompleks. Salah satunya, pembentukan pemerintahan yang bersih dari  rezim orde baru.

Hal terakhir itulah yang membuat demonstrasi besar-besaran tetap tidak surut bahkan pasca-pernyataan mundur Suharto. Sebab, pengangkatan B.J Habibie sebagai presiden juga mengundang ketidak puasan para mahasiswa. Mereka tetap menganggap Habibie sebagai antek daripada orde baru dan itulah kenapa ia harus diturunkan. Inilah kelak yang melatari terjadinya tragedi Semanggi 1 dan 2, yang lagi-lagi, terlupakan dari halaman sejarah Indonesia.

Mengenang 12 Mei adalah mengenang sebuah bagian dari fragmen sejarah Indonesia yang tidak bisa ditemukan secara utuh di pelajaran sejarah versi pemerintah. Versi ini hanya menceritakan sangat sedikit sepertinya tentang apa yang terjadi 21 tahun silam. Itulah kenapa, tidak banyak dari generasi milenial yang paham tentang peristiwa ini. Kecuali bagi mereka yang memang menceburkan diri ke dunia aktivisme atau mempelajari fragmen ini secara otodidak.

Hari ini, 21 tahun sudah Elang Mulya Lesmana dan 3 orang rekannya pergi sebagai salah empat martir turunnya orde baru. Reformasi masih diingat dan bahkan diperingati oleh beberapa kelompok masyarakat. Namun, secara umum, nama-nama mereka mulai memudar seiring usaha dan upaya menciptakan reformasi yang setidaknya sesuai dengan apa yang disuarakan 21 tahun silam.

Ya, reformasi sesungguhnya bukan hanya tentang terjadinya satu peristiwa di sebuah bangsa. Ia adalah proses panjang yang harus terus disesuaikan dan diperbarui semangatnya serta nilai-nilai di dalamnya. Tentu sebagai upaya menjaga semangat reformasi dan menghormati mereka yang telah merelakan hak dan kehidupannya sebagai martir atas semua itu.

Jika saja kita pernah mengetahui (atau bahkan mengalami), setahun setelah Suharto lengser keprabon, para mahasiswa mulai jengah dengan pekik reformasi. Mereka menganggap itu terlalu lama dan pemerintah tidak mendengarkan suara mereka. Lalu, panji revolusi mulai digaungkan dan aksi-aksi damai yang sebelumnya digunakan sebagai media diplomasi mulai ditanggalkan. Mereka mulai berani berhadap-hadapan langsung dengan aparat keamanan.

Mengakhiri tulisan ini sesungguhnya amatlah sulit. Sebab, menulis satu fragmen sejarah tanpa membahas secara cukup kejadian-kejadian sebelumnya adalah sesuatu yang membutuhkan kemampuan penulisan yang bagus. Namun, mengingat kembali apa yang terjadi pada 12 Mei 21 tahun silam sesungguhnya upaya mempelajari kembali halaman-halaman kelam bangsa ini.

Mari mengingat dan belajar, mahasiswa Indonesia pernah amat perkasa. Kampus pernah benar-benar diisi mahasiswa yang agent of change, yang melek dan sadar politik. Demonstrasi pernah menjadi sebuah budaya di kalangan anak muda. Mahasiswa pernah turun dari menara gading dan bergabung dengan buruh, seniman, dan politisi sembari mengawal pekik reformasi. Tak lupa, lagu-lagu nasional pernah dikumandangkan sepenuh penghayatan di berbagai ruas jalanan dalam berbagai aksi damai dan demonstrasi.

Selamat beristirahat Mas Hendriawan Sie, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Elang Mulya Lesmana. Tenanglah di sana. Indonesia berhutang besar pada kalian!

 

Tak lupa, lagu-lagu nasional pernah dikumandangkan sepenuh penghayatan di berbagai ruas jalanan dalam berbagai aksi damai.

Bagikan

Leave a Reply