“Kamu tahu? Ini pekerjaan yang melelahkan. Kadang aku harus memencet remot, membetulkan antena, dan menggaruk bokongku,”

 

‘Tidak bekerja’ alias menganggur adalah frasa yang seksi bagi sebagian orang. Terutama bagi mereka yang baru saja merasakan hingar-bingar acara wisuda universitas. Ia juga semacam ketakutan bagi beberapa orang saat suatu waktu harus kehilangan pekerjaan. Ia bahkan juga menjelma menjadi sebuah daya tekan politis. Lihat saja beberapa saat silam saat para pendukung paslon di pemilu 2019 membawa urusan ini ke ranah perpolitikan.

Lalu apa hubungan antara menganggur dengan tokoh fiktif bernama Patrick Star? Bodoh. Mungkin itulah anggapan banyak orang saat membaca judul tulisan ini. Bagi banyak orang, Patrick mungkin hanya sosok konyol dalam semesta Bikini Bottom yang kadang tidak masuk akal itu. Sementara menganggur ya tetaplah seperti itu; tidak bekerja, gabut, di rumah terus, dan tidak produktif.

Hal pertama yang harus kita ketahui bersama, serial kartun SpongeBob SquarePants sejatinya bukanlah kartun anak-anak. Ia adalah kartun dewasa yang mengandung banyak kritik sosial bagi masyarakat modern Amerika, tempat ia diciptakan. Hampir mirip dengan The Simpsons, hanya saja kastanya lebih rendah. Kurang lebih begitu.

Di sebuah episode, Spongebob dan Patrick menemukan anak kerang. Mereka lalu sepakat  menjadi orang tua bagi si anak kerang itu dengan pembagian tugas Patrick menjadi ayah dan Spongebob menjadi ibu. Keduanya lalu merawat si anak kerang itu dengan penggambaran ilustrasi yang konyol. Ada ikat rambut di atas kepala Spongebob (padahal ia tidak punya rambut) dan Patrick menjelma menjadi sosok ayah dengan setelan jas yang bekerja dari pagi hingga malam lalu enggan mengurus anak karena alasan capek.

Singkat kata, Spongebob jengkel dengan ulah Patrick yang tidak pernah membantunya mengasuh anak. Datanglah ia ke rumah batu Patrick dan menemukannya sedang menonton televisi. Spongebob marah dan mempertanyakan ke Patrick apakah itu yang disebut bekerja. Bagian selanjutnya menjadi bagian favorit saya di kartun ini. Dengan cerdas Patrick menjawab bahwa itu juga merupakan sebuah pekerjaan. “Kamu tahu? Ini pekerjaan yang melelahkan. Kadang aku harus memencet remot, membetulkan antena, dan menggaruk bokongku,” demikian tukas Patrick.

Bagi sebagian orang mungkin kalimat di atas terdengar konyol. Ngawur. Namun pernahkah kita sadar bahwa itu merupakan jawaban linguistis? Ya, Patrick menolak dikatakan tidak bekerja sebab ia merasa bekerja. Menonton televisi, memencet remot, membetulkan antena, dan menggaruk bokong, tidakkah itu semua merujuk ke sebuah aktivitas fisik? Tidakkah semua itu adalah kata kerja?

Inilah yang sebenarnya menarik untuk diulik. Di luar sana, masih banyak orang yang menganggap bekerja “hanya bisa” dilakukan saat kamu bisa jadi karyawan, pegawai pabrik, atau pekerja kantoran. Intinya, kamu harus keluar dari rumah di pagi hari dan kembali di sore atau malam hari jika ingin disebut bekerja. Lengkap dengan pakaian seragam dan dasi. Bagi kamu yang berada di luar pakem tersebut semacam pekerja seni, freelancer, dan petani muda, maka bersiaplah untuk ‘dianggap’ tidak dianggap bekerja.

Padahal, arti pekerjaan sejatinya sangatlah luas dan tidak melulu tentang gaji atau baju seragam. Mirip dengan alasan yang diutarakan Patrick. Cobalah tengok kolom pekerjaan di KTP dan lihat berapa banyak yang isinya adalah mengurus rumah tangga. Ya, menurut sistem administrasi pemerintahan berarti menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan. Padahal, alih-alih mendapatkan gaji, kelompok satu ini malah lebih banyak tekor secara ekonomi. Tidak jua mendapatkan seragam malahan.

Episode di atas juga mengingatkan saya dengan beberapa kelompok pekerja yang dari luar tampak necis namun sesungguhnya pekerjaannya teramat santai. Plus, mereka dapat gaji besar. Mereka keluar rumah dengan baju seragam namun sesampainya di kantor banyak menghabiskan waktu dengan minum kopi, membaca koran, menggosip, bermain gawai, sambil melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sangat ringan sesekali.

Cuplikan kartun di atas juga sesungguhnya tamparan bagi kebanyakan manusia hari ini yang tidak menganggap orang-orang yang memilih menjadi pekerja seni, petani, dan freelancer sebagai orang yang sudah bekerja. Padahal, sesungguhnya ‘pekerjaan’ memiliki konteks yang amat luas. Apa kabar mereka yang memilih mengabdikan diri di jalan Tuhan? Merawat alam dan orang utan, atau rela masuk hutan serta pedalaman demi pendidikan yang merata? Apakah mereka juga akan dianggap tidak bekerja hanya karena tidak dapat gaji tetap dan seragam?

Baiklah, mari mulai membahas sisi ekonomi. Pernahkah kita mendengar pekerjaan tester teh, rokok, atau kopi? Yang pekerjaannya hanya mencercap teh, kopi, dan menghisap rokok? Mereka melakukan pekerjaan sedemikian ‘remeh’ namun tetap dengan etos kerja profesional dan dibayar untuk melakukan semua itu. Apakah lantas mereka juga dianggap ‘tidak bekerja’?

Patrick Star sesungguhnya menjawab pertanyaan kebanyakan orang tentang apa itu pekerjaan. Toh rasanya banyak pula yang bertanya, “Kenapa aku harus jadi PNS seperti kemauan orang tuaku?” Padahal, di luar sana, sangat banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan. Baik dari segi linguistik (seperti yang Patrick lakukan), segi ekonomi, maupun alasan kenyamanan seseorang.

Menariknya lagi, apa yang dikatakan si bintang laut itu sebenarnya cocok dengan kata-kata orang Jawa tempo dulu. Okeh gawean sing iso dilakoni, sek penting kowe gelem karo niat (banyak pekerjaan yang bisa dilakukan, yang penting kamu mau dan punya niat). Patrick sesungguhnya hanya sedang melakukan petuah itu dengan cara menonton televisi. Lalu, bagaimana cara kita menyikapi batas antara bekerja dan tidak bekerja, yang terkadang setipis kertas? Semuanya tentu kembali ke diri kita masing-masing. Sambil menunggu tes CPNS atau info lowongan pekerjaan, sesungguhnya banyak sekali kerja-kerja yang bisa kita lakukan.

Toh, sejatinya tidak pernah ada yang namanya orang menganggur alias tidak bekerja di dunia ini. Bagaimana mungkin seseorang bisa menganggur saat ‘menganggur’ sendiri adalah kata kerja? Bagaimana mungkin seseorang bisa menganggur saat sejatinya ia punya banyak potensi yang bisa dikembangkan, yang kadang masih kalah dengan urusan menonton televisi, memandangi layar gawai, dan mendengarkan omongan tetangga tentang ‘pekerjaan’?

Bagikan

Leave a Reply