Belum banyak milenial zaman kiwari yang paham secara kompleks dan mendalam bagaimana dan kenapa seorang Kartini bisa dikenang bahkan setelah hampir satu setengah abad ia lahir ke dunia. Ya, apapun alasan ketidaktahuan itu, yang pasti Kartini tidak terkenal hanya karena ia mengenakan jarit dan kebaya

 

Selamat hari Minggu dan hari Kartini! Bagi kawan-kawan yang beragama Nasrani, selamat merayakan Minggu Paskah. Turut berduka juga untuk saudara-saudara kita di Srilanka yang kembali menjadi korban aksi teror saat sedang beribadah.

Di hari kedua puluh bulan April, biasanya banyak orang yang sibuk mencari pakaian adat Jawa. Entah itu kebaya, jarit, ataupun surjan untuk menyambut hari Kartini keesokan harinya. Entah sejak kapan hari Kartini identik dengan pakaian adat Jawa sebagai cara dan tradisi dalam merayakannya. Hal ini pun terjadi merata. Mulai dari kalangan pelajar, pegawai negeri, hingga kebijakan di beberapa kantor. Salah kah? Tidak juga. Toh, mengenang seorang pahlawan memang bisa lewat berbagai cara.

Di sisi lain, itu juga sebuah hal yang cukup menggelitik saat kita (hanya) selalu terkenang dengan sosok Kartini yang seorang raden ajeng, yang sedang duduk manis dengan kebaya, lengkap dengan sanggul. Ibarat kata, satu hal paling kuat yang kita ingat tentang putri R.M Adipati Ario Sosroningrat itu hanya tentang pakaiannya saja; jarit dan kebaya.

Mari lupakan sejenak kebaya, jarik, dan sanggul. Pernahkah kita mendengar Door Duisternis tot Litch, Habis Gelap Terbitlah Terang, Nyonya dan Tuan Abenanon, atau sekolah keterampilan yang Kartini inisiasi? Saya cukup yakin, banyak orang yang sudah pernah mendengar hal ini namun selalu luput dari perhatian dan riuh-rendah peringatan hari Kartini.

Kartini sesungguhnya adalah penggebrak zaman. Ia bahkan melakukan itu semua dengan cara yang mengesankan: tulisan dan pendidikan. Betapa mengesankannya, Nyonya Abenanon, istri Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda kala itu bahkan memuji surat-surat yang Kartini tuliskan. Wanita itu tidak menyangka akan mendapatkan tulisan semacam itu dari seorang inlander, seorang pribumi yang di mata kebanyakan orang Belanda kala itu adalah orang-orang bodoh.

Perjalanan Kartini tidak hanya berhenti sampai di situ. Pasca dijodohkan dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Joyo Adhiningrat, ia mendirikan sekolah wanita bagi masyarakat di sekitarnya. Ia bukan hanya sosok wanita dengan kemampuan menulis yang hebat, ia juga seorang yang menaruh perhatian tinggi terhadap isu kesetaraan gender yang dahulu kita sebut sebagai emansipasi; persamaan derajat. Andaikan saat itu gerakan feminisme sudah ada di Hindia Belanda, sangat mungkin Kartini akan dikenang sebagai seorang feminis pertama di muka bumi Hindia Belanda. Ya, andaikan.

Adalah sesuatu yang teramat sempit saat masyarakat Indonesia di zaman kiwari hanya selalu mengenang Kartini dengan mengenakan pakaian adat Jawa setiap tanggal 21 April – hari kelahiran sang raden ajeng, 140 tahun silam. Tidak salah memang, namun sekali lagi, Kartini bukan hanya tentang jarit dan kebaya. Kartini adalah sebuah anomali, ia adalah anak yang berbeda dari sebuah feodalisme campuran antara Jawa dan Hindia Belanda.

Andaikan boleh berkata jujur, sesungguhnya Kartini pun mungkin tidak menyukai pakaian yang selalu kita kenakan saat merayakan kelahirannya itu. Bukan karena tidak menyukai budaya lokal dan nilai ketimuran namun karena ia merasakan ada perbedaan mencolok antara perlakuan masyarakat terhadap kaum pria dan wanita kala itu. Dalam surat kepada salah satu sahabat penanya bernama Estelle Zeehandelaar, ia bahkan mengeluhkan kungkungan adat Jawa yang membuat kaum wanita di Hindia Belanda tidak bisa maju dan berkembang layaknya wanita di Eropa.

Mengenang Kartini sejatinya adalah mengenang sebuah perlawanan. Ia semakin cantik karena perlawanan tersebut diberikan oleh seorang perempuan, kelompok gender yang belum terlalu diperhitungkan – dan diletakkan di bawah kaum hawa dalam sebuah masyarakat patriarkis. Sudah selayaknya, andai kata kita memang ingin mengilhami semangatnya, adalah dengan menggali kembali pemikiran-pemikirannya yang menurut Nyonya Abenanon mendahului zaman.

Kartini memang lahir di Rembang, tapi ribuan kilometer jauhnya, ia menjadi salah satu corong Hindia Belanda di tanah Belanda. Dalam ketersikasaan batinnya menjalani masa pingit, ia habiskan waktunya dengan membaca banyak literatur dan mengirimkan gagasannya ke berbagai surat kabar masa itu seperti De Hollandsche Lelie. Coba lihatlah, bahkan kini banyak penerusnya malas menulis caption Instagram dan membalas pesan WhatApp. Mengenaskan!

Rasanya, belum banyak milenial zaman kiwari yang paham secara kompleks dan mendalam bagaimana dan kenapa seorang Kartini bisa dikenang bahkan setelah hampir satu setengah abad ia lahir ke dunia. Ya, apapun alasan ketidaktahuan itu, yang pasti Kartini tidak terkenal hanya karena ia mengenakan jarit dan kebaya. Itulah yang harus banyak orang ketahui.

Jika dirunut satu persatu, maka akan banyak sekali predikat yang mestinya kita sandangkan ke seorang Kartini. Ia seorang anak priyayi, pemerhati isu sosial dan hukum, penulis pilih tanding, kolomnis, feminis Indonesia, aktivis pendidikan, dan entah berapa banyak sebutan lainnya. Nah, dari sekian banyak predikat itu, kenapa kita hanya mengenang Kartini ‘gara-gara’ jarik dan kebaya yang ia kenakan?

Rasanya, itu semua cukup menyakitkan bagi Kartini. Ia yang selama 25 tahun hidup untuk memperjuangkan akses keseteraan kepada sesamanya lewat pendidikan dan berbagai tulisannya kemudian ‘hanya’ dikenang karena pakaiannya. Andai Kartini masih hidup di dunia ini saya yakin ia akan protes, “Plis, lihat aku dari sisi yang berbeda, Mas!” Hal lucu lainnya, kita selalu terkenang dengan emansipasi yang Kartini perjuangkan namun kita ‘hanya’ mengenang sosoknya lewat jarit dan kebaya – yang notabene pernah menjadi simbol adat yang mengekang hak dan kebebasan orang-orang yang memakainya di masa Kartini masih hidup. Termasuk ia sendiri.

Sekali lagi, mengenang Kartini adalah mengenang sebuah perlawanan yang amat elegan dan cantik. Dan itu tidak selayaknya hanya digaungkan lewat seruan penggunaan pakaian adat Jawa tiap tanggal 21 April. Kartini pernah dan akan selalu ada untuk sebuah gagasan-gagasan besar yang menyangkut isu-isu keberpihakan, kesetaraan gender, dan akses yang merata. Ia pernah menjadi sebuah suara yang mewakili para wanita di negerinya.

Sayangnya, Semesta memanggilnya saat ia masih berusia amat muda; 25 tahun. Andai kata ia bisa hidup lebih lama di bumi Hindia Belanda, rasanya ia akan berdiri sama rata dengan sang kakak, Sosrokartono, maupun Tirto Adisuryo yang terkenal karena gagasan, kepintaran, dan kepiawaiannya dalam urusan menulis. Tidak mustahil pula ia bisa berdiri bersama Ki Hadjar Dewantara dalam meramu konsep pendidikan yang cocok untuk pribumi.

Atau, mungkin ia akan menyampaikan secara lebih gamblang kepada dunia bahwa ia ingin dikenang bukan sekadar lewat jarit dan kebaya yang dikenakan para murid sekolah setiap tanggal kelahirannya.

“Tak pentinglah agama atau ras apa orang itu, jiwa besar tetaplah jiwa besar, watak yang mulia adalah tetap jiwa yang mulia. Anak-anak Allah orang dapatkan dalam setiap agama, pada setiap ras” – Kartini

Bagikan

Leave a Reply