Tanpa seorang Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, calon lain yang melawan Joko Widodo hanya akan menjadi ‘pelengkap’ gelaran kampanye pilpres 2019

 

Selamat berlebaran demokrasi!

Akhirnya, hari yang bersejarah bagi (beberapa) umat manusia Indonesia, yaitu pemilu serentak 2019 telah tiba. Ya, sebuah ajang pesta demokrasi tempat kita para rakyat memilih anggota DPR, DPD, dan presiden beserta wakilnya.

Diakui atau tidak, dibandingkan pemilihan calon anggota legislatif atau DPD, pemilihan presiden lah yang membuat konstelasi pemilu 2019 menjadi amat riuh sekaligus diwarnai berbagai intrik. Entah sudah sejak berapa bulan yang lalu nama-nama seperti Joko Widodo, Ma’aruf Amin, Prabowo Subianto, dan Sandiaga Uno mendapatkan tempat di antara isu-isu hangat dalam pemberitaan bangsa ini sekaligus menjadi tag dalam ribuan bahkan jutaan artikel pemberitaan selama masa kampanye.

Pemilihan presiden yang hanya diikuti dua pasangan calon memang akan melahirkan polarisasi yang hebat, seperti pendapat dan dugaan banyak pengamat politik. Tapi mari sejenak lupakan bagaimana pemilihan presiden diwarnai dengan berbagai riuh rendah nirmutu yang terjadi. Coba kita sampingkan terlebih dahulu tentang perang pernyataan kedua kubu yang kadang berakhir sebagai hoax, kepentingan kedua paslon dalam industri tambang, dan berbagai kericuhan lainnya. Sekali lagi, terlepas dari bagaimana konstelasi politik tidak sehat, polarisasi cebong-kampret, perang jari nirkualitas, persaingan menuju RI-01 dan RI-02, dan siapapun pemenang pilpres 2019 nanti, rasanya kita harus berterima kasih kepada Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahudin Uno.

Sebagai petahana dengan segudang prestasi, Joko Widodo memiliki elektabilitas yang cukup tinggi sejak jauh-jauh hari sebelum pemilu. Ini tentu  modal penting bagi seseorang untuk masuk ke dalam kancah politik. Dalam studi kasus Joko Widodo, ia masih memiliki modal lain yang amat sangat kuat: dukungan dari rakyat dan para pemilik media serta, dukungan dari berbagai partai politik bahkan yang dulunya oposisi. Ini menjadi sebuah pertimbangan kuat bagi para calon lain yang hendak mengajukan diri sebagai calon presiden; musuh mereka bukan orang dengan modal sembarangan.

Namun yang juga tidak boleh kita lupakan, kondisi dunia politik Indonesia belum memungkinkan orang dengan gagasan atau kreativitas baru muncul begitu saja. Ini terjadi merata, bahkan hingga ke tingkat akar rumput semacam pemilihan lurah. Mereka, orang-orang baru yang hendak menceburkan diri ke dunia politik harus punya banyak modal, salah satunya adalah tingkat keterpilihan alias tingkat elektabilitas.

Ini akan makin rumit jika ditambah dengan faktor biaya politik di Indonesia yang besar. Mengusung calon yang kreatif, bervisi misi baru, namun minim elektabilitas hanya akan membuat rugi calon itu sendiri beserta timnya. Sebagai gambaran, biaya iklan televisi kedua capres pun berada di atas angka 70 milyar! Siapa yang mau bayar semua itu?

Mari kita bayangkan andai kata Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno memutuskan untuk tidak mencalonkan diri sebagai calon presiden dan wakil presiden lalu berkata, “Emoh ah, aku wes emoh dadi capres utawa cawapres.” Mungkin memang akan muncul nama-nama baru dalam kancah politik Indonesia, toh memang beberapa nama sudah pernah digadang-gadang untuk diajukan menjadi capres. Mungkin pula akan muncul inovasi-inovasi baru dalam kancah debat capres/cawapres dan tidak hanya dipenuhi isu atau janji yang itu-itu saja.

Tetapi, pernahkah kita membayangkan apakah si calon itu akan sanggup memberikan perlawanan yang seimbang pada petahana dalam hal eletabilitas dan popularitas di tingkat nasional? Memang banyak sih tokoh-tokoh yang di tingkat daerah amatlah populer, tapi mohon diingat bahwa konstelasi politik di tingkat daerah dan tingkat nasional amat sangat berbeda.

Tanpa adanya modal itu, capres lain penantang petahana akan menjadi semacam bawang kosong. Konstelasi politik menjelang pilpres 2019 akan sangat jomplang. Sang petahana akan terus melenggang mengumpulkan dukungan sementara si penantang akan terus terseok-seok dalam pertarungan yang tidak seimbang itu. Ibarat kata, si penantang akan terus kena serang dan dia sendiri tidak bisa menyerang balik. Kan mesakke.

Masalah lain, belum tentu si orang baru itu tadi akan mendapatkan dukungan dari para partai politik. Ingat, ada syarat presidential threshold bagi kalian yang berkeinginan maju sebagai calon presiden di negara ini. Kenapa alasan ini penting untuk dibahas? Pertama, karena partai politik tidak mau rugi. Singkat kata, mereka tidak mau bertaruh mengajukan calon baru atas nama regenerasi atau kebaruan gagasan. Alasan kedua, untuk mencapai  presidential threshold sebuah partai politik harus berkoalisi dengan partai lain. Jika tidak, lihat saja Bung Rhoma Irama yang (sepertinya) dari dulu sangat ingin menjadi capres namun selalu gagal karena partainya tidak mampu memenuhi ambang batas presidential threshold.

Hadirnya Prabowo Subianto, terlepas dari selisih tingkat elektabilitasnya, mampu memberikan perlawanan yang seimbang dengan sang petahana. Apalagi, ia bukan nama baru dalam kancah politik Indonesia. Ia sudah muncul sejak pilpres 2009 yang lalu, ia punya elektabilitas yang mendekati Joko Widodo, ia masih dianggap lawan yang tepat bagi sang petahana. Dari segi gerbong politik, partai yang tempatnya bernaung adalah juara ketiga pemilu 2014 dan ia pun masih mendapatkan dukungan dari berbagai partai lain.

Tanpa seorang Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, calon lain yang melawan Joko Widodo hanya akan menjadi ‘pelengkap’ gelaran kampanye pilpres 2019. Ini tentu tidak sehat dalam sebuah konstelasi politik di negara demokrasi dan akan menguatkan kesan calon tunggal dalam palagan pemilu. Tanpa mereka berdua, pertarungan menuju kursi RI 01 dan 02 akan terasa sangat jauh dari  kata seimbang. Tanpa keduanya, sang petahana mungkin tidak akan bekerja keras dalam menjaga suaranya menuju hari pencoblosan dan tidak akan pula mendapatkan lawan yang head-to-head.

Akhir kata, tulisan ini memang mengesampingkan berbagai permasalahan dan konflik yang muncul dalam masa kampanye pilpres 2019. Toh, sudah banyak yang membahas hal-hal memuakkan tersebut. Terlepas dari apapun hasilnya kelak – siapapun yang menang – siapapun yang dilantik besok Oktober, rasa-rasanya kita tetap harus berterima kasih pada Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahudin Uno atas masuknya mereka ke palagan pilpres 2019 dan menjadikan pilpres kali ini tetap diisi dengan pertarungan yang sengit dan seimbang. Itu jauh lebih baik, sekali lagi terlepas dari masalah kedua paslon tersebut, jika dibandingkan dengan fenomena pasangan tunggal.

Bagikan

Leave a Reply