“Anggaplah ini seperti acara di televisi yang bertukar nasib untuk beberapa saat itu. Izinkan saya merasakan jadi mayoritas untuk sesaat dan menikmati beberapa kelebihan yang tidak bisa saya lakukan sebagai minoritas”

 

Anggaplah aku bagian dari kelompok minoritas di negara ini. Lengkap dengan kepercayaan dan agama yang minoritas pula. Terserah kamu mau membayangkan apa agama atau kepercayaanku. Di negara ini, banyak agama atau kepercayaan yang dicap minoritas, kok. Tidak usah khawatir.

Loh! Loh! Mas ini kok suka memperkeruh suasana dengan mengatakan minoritas-mayoritas! Itu tidak baik mas! Kembalilah ke jalan yang benar mas!

Halah!

Itu namanya teori. Sesuatu yang tidak nyata terjadi atau terlihat jika tidak di ikuti dengan tindak-tanduk orang-orang di dalamnya. Mungkin aku memang jahat (sudah minoritas, jahat pula!) dengan membawa-bawa urusan minor-mayor dalam pemikiranku. Tetapi tunggu sebentar, kamu pikir kekerasan yang selama ini menimpa kami tidak ada urusannya dengan nasib mayoritas VS minoritas (atau sebaliknya)?

Saya masih ingat ketika saudara saya di Kotagede harus di makamkan dengan Salib yang terpotong. Saya belum lupa ketika jemaah gereja di Bogor itu tidak bisa nyaman beribadah karena urusan izin pembangunan. Masih pula lekat di benak saya saat penganut syiah di Madura harus di pindahkan demi alasan keamanan. Atau, saat jemaah misa di bubarkan paksa di daerah Sleman, Yogyakarta. Kamu pikir itu semua tidak ada hubungannya dengan minoritas-mayoritas?

Saya sebagai kaum minoritas di negara ini selalu bertanya-tanya, bagaimana ya rasanya jadi mayoritas lalu membuat beberapa peraturan yang berpondasi pada kekuatan mayor masyarakat sekitar. Sumpah! Ini sesuatu yang rasanya akan menyenangkan dan berkesan. Saya sebagai minoritas tidak pernah berkesempatan melakukan itu soalnya.

Mas kok jahat sih!

Sebentar, kenapa kamu berfikir aku jahat? Kan katanya bangsa ini menganut sistem musyawarah mufakat? Lho saya sebagai bagian dari kelompok (yang sedang membayangkan jadi) mayoritas membuat itu atas dasar persetujuan bersama kok. Kami sudah melakukan musyawarah dan ndilalah masyarakat sekitar kami ini satu agama dan kepercayaan. Tidak salah kan? Maka, saya sebagai warga  minoritas di tengah-tengah masyararakat mayoritas, mengajak kalian semua sesekali untuk bertukar nasib. Kamu jadi minoritas dan saya jadi mayoritas. Sebentar saja tidak masalah.

Bukannya saya tidak bersyukur bisa tinggal di negara (yang katanya) menjunjung tinggi adat ketimuran sekaligus (yang katanya) masih menjunjung tinggi toleransi. Saya tetap bersyukur bahwa kami ada di sini, di sebuah negara yang lewat konstitusinya melindungi agama dan kepercayaan warga di dalamnya.

Hanya saja, ada sesuatu yang kurang dari hidup saya sebagai seorang warga minoritas. Saya tidak berkesempatan membuat konsensus bersama untuk melindungi komunitas kami dari orang-orang yang berbeda keyakinan dan kebetulan mereka minoritas.

Sungguh, sepertinya asyik bisa mengatur masalah perizinan rumah ibadah dan tata-cara pemakaman tetangga yang beda agama. Atau syukur-syukur kalau kelak saya bisa jadi kadus (kepala dusun) dan bisa membuat peraturan bersama untuk melarang orang berbeda keyakinan untuk tidak tinggal di dusun tempat saya bertahta memimpin. Hayo kalian jangan protes atau marah, ini sudah sesuai alur kemufakatan bersama, loh. Kami sudah duduk bersama dan mempertimbangkan banyak hal kok.

Ndilalah lagi, lingkungan tempat saya tinggal ini dihuni oleh orang-orang dengan kepercayaan dan agama yang sama; mayoritas. Ya jangan salahkan saya kalau jadi gagal paham dengan pertimbangan di luar faktor itu. Jangan  marah jika kami gagal membayangkan andai kata ada orang berbeda keyakinan yang ingin tinggal di sekitar kami. Maaf ya wahai minoritas, kami hanya tidak ingin terganggu dan kebetulan pemahaman kami tentang menghargai sesama memang pas-pasan. Apalagi, banyak kabar burung tentang jeleknya kalian yang pernah saya dengar. Sudahlah, masih ada banyak dusun lain yang bisa kamu tempati. Percayalah!

Mas kok jahat sih berpikiran seperti itu?

Lho, Anda jangan salah paham dulu, kisanak. Siapa bilang kalau kami ini jahat? Kami tidak jahat kok. Nyatanya, kami tetap adem ayem dengan semua perlakuan yang kami terima. Kami tidak pernah sekalipun berfikiran buat balas dendam atau pindah negara. Kami juga sudah memaafkan semua yang terjadi, toh Tuhan kan maha pengampun. Masa umatnya tidak mau mengampuni.

Permintaan saya untuk bertukar agama tadi bukan tentang baik-buruk atau jahat-tidak jahat diri saya. Izinkan untuk berkata jujur, saya hanya sangat ingin berada di posisi mayoritas. Setidaknya sekali seumur hidup. Sebab, saya dulu berfikir mayoritas-minoritas bukanlah masalah besar bagi bangsa yang menganut slogan nasional bhinneka tunggal ika. Ternyata, anggapan saya salah dan sekarang tiba-tiba ingin jadi mayoritas. Maafkan.

Pernahkah kalian berfikir ada di posisiku? Kapan saya bisa bertindak seperti kalian wahai mayoritas? Kapan saya bisa ikut sweeping menjelang datangnya momen penting agama saya namun tidak terlalu di salahkan dan tetap dapat dukungan banyak orang? Atau, kapan kami bisa membuat konsensus bersama untuk menolak warga beda agama untuk tinggal di wilayah kami atau di makamkan dengan tanda salib tanpa harus di potong?

Bukan itu juga sih sebenarnya yang saya cari namun bagaimana saya sebagai pihak (yang pura-puranya) mayoritas tetap bisa stay cool dengan semua itu sembari berkata, “Ini konsensus bersama, mohon jangan berfikir kami intoleran.” Sungguh, itu kenikmatan surgawi bagi saya.

Sebenarnya sih kami para minoritas bisa melakukan semua itu. Toh walaupun kami ini minoritas tapi tetap tidak sedikit jumlahnya. Jutaan pun ada. Tetapi kami masih percaya bahwa bhinneka tunggal ika sebagai pedoman hidup di negara ini. Kami masih menganut cinta kasih pada sesama untuk mewujudkan persatuan. Bukan lewat penyetaraan. Belum lagi nanti cercaan dari mayoritas. Sudah minoritas, banyak ulah pula!

Kan juga tidak lucu kalau saya harus pindah agama hanya karena ingin merasakan jadi mayoritas di bangsa ini? Apalagi, mayoritas kadang ribet dalam menentukan seseorang masuk kelompoknya atau tidak. Agama sama, alirannya beda. Aliran sama, mazhabnya beda. Mazhabnya sama, tempat ibadahnya beda. Tempat ibadah sama, bacaan iftitah nya beda. Sungguh, saya membayangkan saja sudah capek. Biarlah beberapa saudara saya yang menganut kepercayaan minoritas berpindah ke kepercayaan lain demi pengakuan dari negara. Toh, kami sudah menerima semua itu dengan legawa.

Oleh karena itu, lewat tulisan ini izinkan saya mengajukan tawaran untuk pindah agama. Anggaplah ini seperti acara di televisi yang bertukar nasib untuk beberapa saat itu. Izinkan saya merasakan jadi mayoritas untuk sesaat dan menikmati beberapa kelebihan yang tidak bisa saya lakukan sebagai minoritas. Iya, ini hanya bertukar agama kok. Sebentar saja. Setelah ini selesai, kita kembali ke agama masing-masing dan peran masing-masing.

Toh fenomena beragama di bangsa ini kan kadang lucu. Masa iya, saat pemuka agama berkampanye demi calon tertentu kalian tidak marah tapi saat saya ajak bertukar posisi akan marah.

Silakan hubungi saya jika ada yang berminat. Ingat, hari Senin harga naik!

Bagikan

Leave a Reply