Sabtu, 16 Juni 2018 saya mengalami kecelakaan setelah diserempet pemotor lain. Seturut keterangan orang-orang, saya terseret sekitar 5 meter. Saat sudah berhenti, saya tengkurap di atas pembatas jalan ringroad dan merasakan sakit di bagian paha. Helm terlepas, celana sobek, belakangan saya tahu sepatu kanan saya juga terlepas. Reflek, saya menggulingkan badan ke jalur cepat yang belakangan saya anggap itu konyol dan berbahaya.

Hari ini, sudah sekitar 9 bulan kejadian itu berlangsung. Tulisan ini saya buat untuk menjawab pertanyaan sekaligus berbagi pengalaman kepada kalian semua, siapapun itu, agar lebih berhati-hati dan tetap tenang dalam menghadapi apapun.

Saya dievakuasi ke tepian jalan oleh 4 orang pria dengan cara di angkat. Saat itu, saya sudah tidak bisa menggerakan kaki kanan saya yang tertekuk. Terasa sesuatu yang amat sangat mengganjal saat saya mencoba menggerakkannya. Saya sadar kaki saya patah dan sempat berseteru dengan bapak-bapak yang mencoba meluruskan kaki saya. Di tepian jalan, saya masih sempat menyulut rokok sambil tiduran saat menunggu ambulans datang. Buat apa? Buat mengurangi rasa sakit dong.

Hampir 20 menit  menunggu, akhirnya saya di bawa ke rumah sakit terdekat. Saat itu, belum ada anggota keluarga yang saya beritahu. Saya menolak saat keluarga hendak dihubungi oleh pihak rumah sakit. Sebelumnya, polisi dan seorang bapak-bapak yang menolong pun saya larang menghubungi orang tua saya. Saya hanya ingin mengabarkan hal ini sendiri, agar mereka tidak khawatir. Silakan kalian bayangkan jika tiba-tiba dihubungi polisi yang mengabarkan bahwa anggota keluarga kalian mengalami kecelakaan. Mereka pasti akan kalut dan berfikiran macam-macam. Saya hubungi sendiri orang tua saya sesaat sebelum masuk ke ruang rontgen. Selepas rontgen, karena pihak keluarga belum juga datang, perawat memberitahu hasil rontgen langsung kepada saya. Tulang paha saya patah di 2 titik.

Senin pagi, saya menjalani operasi pemasangan platina. Lucunya, saat di bedah baru diketahui bahwa tulang paha saya juga retak. Karena itu juga, operasi berjalan 2X lipat lebih lama dibandingkan perkiraan. Total saya berada di ruang operasi selama 4 jam untuk memasang 2 bilah platina. Bagi kalian yang belum tahu, platina dipasangkan dengan cara di baut ke tulang. Saat ini, saya memiliki 12 baut dan 2 bilah platina di paha kanan saya.

Dokter mengatakan saya harus istirahat total selama 3 bulan. Selama itu, saya harus berjalan dengan bantuan tongkat. Keluar dari  rumah sakit, saya di bawa ke sebuah pengobatan alternatif. Dari sana saya disarankan tetap berjalan dengan menapakkan kaki  kanan, sesuatu yang sebenarnya di larang oleh dokter. Saya menurut, hanya karena saya pikir itu masuk akal; jika terus menerus di tekuk, maka kaki kanan saya kemungkinan akan sulit diluruskan dan itu akan membawa dampak yang tidak baik di masa mendatang.

Melewati 3 bulan dengan tongkat jalan tentu bukan perkara mudah. Otomatis semua kegiatan saya harus dibatalkan. Saya yang biasanya melakukan banyak hal hanya bisa menikmati waktu di rumah; paling jauh mungkin hanya menikmati sore di teras rumah. Dalam fase ini, ada sesuatu hal yang penting untuk ditanamkan dalam diri kita; jangan sampai bosan. Saya bahkan masih sempat menulis satu judul buku selama masa ini. Semata untuk mengusir bosan. Di luar semua itu, saya menekankan bahwa mungkin Tuhan sedang menyuruh beristirahat sejenak dengan memberikan mukjizat semacam ini.

Banyak yang bertanya, kenapa saya masih pincang dan platinanya belum di lepas. Pertama, saat di operasi berarti otot kaki kita di bedah. Ya, di sobek untuk kemudian di pasang platina. Setelah itu, kita tidak hanya harus berproses menyembuhkan tulang yang patah namun juga memulihkan otot kita. Saya bahkan perlu waktu hammpir 4 bulan untuk bisa jongkok. 2,5 bulan untuk berani duduk di bawah (karena duduk di bawah berarti kita harus menopang berat badan dengan kaki sambil menekuknya), dan perlu waktu 3 bulan lebih sedikit untuk bisa lepas dari tongkat. Sudah sembuh? Belum. Saya masih belum bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, termasuk jongkok dengan santai, berlari, dan meloncat.

Saya memutuskan melepas tongkat setelah 3 bulan bedrest. Ini sesuai dengan anjuran dokter dan keyakinan saya berdasarkan anjuran itu. Saya sudah bosan berjalan dengan tongkat dan saya harus melatih kaki saya untuk tidak manja. Khusus untuk ini, memang tergantung keberanian masing-masing orang. Suatu kali saya bertemu pasien saat kontrol, dia masih menggunakan 2 tongkat setelah 4 bulan dioperasi. Alasannya, ia takut. Tetapi, saya memang ngeyel. Itu dibenarkan dokter yang mengoperasi saya. Ia bilang mental saya kuat dan itulah kenapa proses penyembuhan berjalan cepat. Beberapa perawat bahkan heran karena saya tidak pingsan setelah mengalami kecelakaan semacam itu.

Kedua, tentang belum lepasnya platina. Jadi begini, untuk melepas platina diperlukan waktu satu tahun atau sampai tulang benar-benar telah tersambung sempurna. Tetapi itu saja tidak cukup, saya harus menjalani operasi lagi dan kaki saya di bedah lagi. Seorang kawan yang perawat pernah bercerita paling tidak butuh 1 bulan untuk pemulihan pasca operasi. Itu belum termasuk pemulihan otot yang saya yakin memerlukan waktu lebih lama.

Pincang dan belum bisa berjalan normal saya anggap itu biasa. Otot saya masih perlu banyak latihan dan pembiasaan dengan adanya 2 bilah platina dan 12 baut didalamnya. Tentang luka operasi, banyak orang yang bertanya letaknya. Luka operasi saya ada di paha kanan bagian dan terbujur sepanjang paha. Tinggi saya 170cm dan bayangkan saja ada luka di paha kananmu. Hal yang sama berlaku untuk perkiraan panjang platina.

Selama bedrest, saya ogah memikirkan hal-hal berat. Masalah pekerjaan yang tertunda, masalah waktu yang terbuang, dan lain sebagainya. Saya mencoba sesantai mungkin sejak detik pertama saya jatuh. Masih bisa membuka mata dan mengucap terima kasih kepada orang-orang yang menolong pun rasanya jauh dari ajaib. Apalagi, saat itu helm saya terlepas. Betapa santainya, bahkan saya tidak ketakutan sama sekali saat menjelang operasi. Di kamar bedah, saya mencoba rileks dan bercengkerama dengan tim dokter.

Banyak pula yang bertanya rasanya operasi. Yang pasti tidak terasa karena saya di bius setengah badan. Dokter tidak mengizinkan saya di bius total karena katanya di larang oleh aturan medis dan karena kondisi saya yang stabil (detak jantung dan tensi darah normal). Tetapi, saya masih bisa mendengar. Termasuk saat suara sejenis suara bor terdengar dan saya yakin saat itu tulang paha saya di bor untuk memasang baut. Sakit? Tidak sama sekali. Kan di bius hehehe.

Akhir kata, tulisan ini hanyalah media berbagi cerita. Semoga menjadi bayangan bagi kalian yang gemar mengebut di jalan raya. Masih untung kalau hanya lecet atau rusak motornya, tetapi patah tulang di bagian kaki sungguh susah dan akan berdampak panjang. Banyak alasannya. Kaki adalah penopang berat badan kita dan menjadi penentu saat kita melakukan aktivitas berat. Belum lagi dampak lain dari bedrest berbulan-bulan. Saya pun saat ini masih gampang lelah jika melakukan terlalu banyak aktivitas fisik, walaupun itu hanya ringan.

Tetap berdoa sebelum melakukan aktivitas, termasuk sebelum bepergian. Hati-hati selalu dan bagi kalian yang mungkin pernah mengalami kejadian serupa, mari tos dulu!

Bagikan

Leave a Reply