Cerpen

Oleh : Ariadne Novi

 

Aku yang baru saja memarkirkan motor di halaman gereja hampir terjatuh. Tawaku pecah tanpa bisa ditahan lagi beberapa saat kemudian. Emma tampak tidak heran dengan reaksiku. Dia hanya tersenyum kecil lalu mengulang perkataannya tadi. “Aku baru melihat hantu!” ujar Emma.

Aku masih tertawa. Emma menyeretku ke teras. Kami berdua duduk disana. Masih 20 menit lagi sebelum acara gladi bersih malam Natal dimulai. Gereja masih sepi.

“Aku benar-benar melihatnya,” Emma mengulangi ceritanya.

“Kau kan tahu, aku tidak akan…“

“Tidak akan percaya? Ya, aku tahu,” potong Emma melambaikan tangannya di hadapanku. Ia duduk gelisah sambil menatapku agak kesal.  “Seharusnya aku tidak mengatakan ini padamu.” Aku menatap Emma heran. Apa Emma serius? Aku menolak pernyataan gila itu di kepalaku. Tidak! Pasti dia bercanda. Emma, Kau bercanda, batinku.

“Tidak,” Katanya cepat. Aku mengernyit.

“Kita tidak percaya hantu, Emma,”

“Memang tidak. Sampai dua puluh menit yang lalu, Vallin.” Ia membantah.

Pandangan Emma menerawang keluar pagar, ke jalanan depan gereja .Bulir-bulir keringat membasahi dahinya. Ia terus membasahi bibir dan memilin tangannya. Beberapa kali ia mengatur nafas yang masih tersengal. Aku curiga kalau dia sebenarnya sedang demam tapi memaksakan datang. Ku pegang keningnya untuk memastikan. “Kau demam,” kataku.

“Tidak Vallin,” ujarnya sambil menepis tanganku.

Aku memanyunkan bibirku. Baiklah. Sepertinya Emma sedang bermain-main denganku. Bisa saja setelah ini dia tertawa lepas menertawakanku yang mempercayai cerita bodohnya.

“Aku melihatnya di dapur,” Emma memulai ceritanya. Aku membiarkannya. Akan kuikuti permainannya. “Aku begitu terkejut sampai ingin mati. Kukira itu kau!” ia bergidik sendiri. Aku hanya mengangguk mendengarnya. Masih kutunggu kelanjutannya. “Kau tidak percaya?” tanyanya sambil menatapku horor. Aku mengangkat kedua bahuku.

“Baiklah Vallin. Terserah kau saja. Yang jelas sekarang aku tidak sedang bercanda.”

Aku iyakan saja. Lebih mau mendengar ceritanya lagi  sekadar untuk menghargai. Tiba-tiba aku bingung apakah Emma sedang bercanda atau tidak. Aku akan anggap saja dia tidak sedang bercanda. Tapi, aku meyakinkan diriku sendiri kalau, walaupun Emma bercerita sampai mulutnya berbusa, aku tidak akan percaya.

“Dia tersenyum padaku Vallin! Dia melihat mataku!” terangnya menggigil. Aku tak tahu harus berbuat apa selain menepuk-nepuk punggungnya.

“Rumor itu benar, Vallin,”

“Rumor apa? Oh, hantu-hantu itu? Ya. Aku sering mendengarnya. Kita sering membicarakannya.”

Emma mengangguk-angguk. “Dan tentang perempuan-perempuan Belanda itu benar adanya.”

Yeah. Banyak sekali cerita seram yang beredar mengenai gerejaku yang memang agak menyeramkan. Gedung gereja ini bangunan tua peninggalan Belanda dan sama sekali belum pernah direnovasi. Artinya ia sudah berdiri lebih dari delapan puluh tahun. Suasana remang-remang yang melekat di gedung ini membuat cerita-cerita itu terdengar nyata.

“Kemarin romo melihat tangan-tangan tanpa tubuh melambai padanya,” terang Emma beberapa bulan silam. Waktu itu aku tidak terkejut. Sudah sering mendengar cerita-cerita semacam ini. “Ya. Dan Pak Doni dua minggu lalu melihat kaki berjalan sendiri. Semakin lama, cerita-cerita itu semakin tidak masuk akal,” lanjut Emma.

Aku juga masih ingat cerita seorang oma yang melihat sosok perempuan Belanda sedang berdiri di balik jendela. Dari semua cerita, hantu perempuan Belandalah yang paling fenomenal. Selain banyak sekali umat yang mengaku pernah melihatnya, kenyataan bahwa bangunan ini peninggalan Belanda semakin membuatnya populer. Sedangkan sampai detik ini aku tidak pernah mempercayainya. Seharusnya Emma juga.

“Kau tidak mendengarkanku,” Emma menegur. Aku mengerjapkan mata menyadarkan diri dari lamunanku.

“Apa?”

Wajah Emma berubah masam. “Sudahlah. Lupakan saja. Kau tidak akan mempercayaiku sebanyak apapun aku meyakinkanmu”

Emma tahu kalau aku tidak akan mempercayainya. Seharusnya ia berhenti saja untuk menceritakan hantu-hantu itu. Lagi pula, apa sih yang merasuki Emma sampai ia berbicara begitu padaku? Jelas-jelas dari dulu kami sepakat tidak akan pernah percaya hantu. Makhluk halus yang sering orang bicarakan itu hanya ada di dalam hati manusia. Hanya berusaha membujuk manusia untuk melakukan hal-hal jahat. Tidak gentayangan diantara bangunan-bangunan dan menakuti manusia.

“Tapi kita berdua tidak percaya hantu Emma.”

“Tapi aku baru saja melihatnya Vallin!” kata Emma agak meninggi. Aku terlonjak di tempatku. Uh, Emma tidak pernah sekalipun berkata begitu. Mungkin saat ini dia benar-benar sudah kacau.

“Aku ingin ke kamar mandi.”

Emma diam. Aku langsung menuju toilet di belakang gereja. Ku basuh mukaku dengan air dingin, sekaligus mendinginkan otakku.

Aku sekarang berpikir kalau Emma benar-benar sedang demam. Aku mendesah sendiri. Aku akan menghubungi kedua orang tuanya supaya Emma bisa beristirahat setelah gladi bersih nanti.

Aku keluar dari kamar mandi. Melewati lorong pasturan, melewati pintu sekretariat, melewati pintu dapur. Aku berhenti sejenak, sengaja kutolehkan kepala ke dalam dapur. Aku tidak melihat apa-apa di sana. Yah, apa yang aku harapkan? Bertemu perempuan Belanda? Buat apa, toh aku tidak percaya hantu.

Kulanjutkan langkah kakiku. Lalu aku merinding, mungkin karena angin. Aku mengabaikannya dan melanjutkan perjalanan. Aku merinding lagi. Aku kesal sendiri. Ini pasti gara-gara cerita Emma tadi! Umpatku dalam hati. Aku menggosokkan telapak tanganku ke lengan. Kuabaikan perasaan takut dan bulu kuduk yang baru saja meremang.

Sebuah suara ku dengar. Aku tidak mungkin salah. Emma baru saja memanggilku. Ya. Dia pasti di belakangku. Mungkin dia berniat menakut-nakutiku. Lalu akan tertawa keras-keras karena melihatku berjalan seperti orang ketakutan. Aku berbalik cepat. Uh. Sial! Tidak ada siapa-siapa di sana.  Aku pasti kelihatan sangat bodoh.

Aku menghela nafas kesal. Pasti tadi hanya ilusi. Jelas-jelas aku baru meninggalkan Emma di teras gereja. Hanya bangunan tua berlantai tiga yang ku lihat dari mataku. Aku baru akan berbalik ketika sadar ada sesuatu yang salah dengan bangunan berlantai tiga itu. Aku mendongak lagi. Ku lihat lantai satu, lantai dua, lantai tiga. Ya ampun Tuhan Yesus! Mataku menangkap siluet perempuan yang berdiri di aula lantai tiga. Dekat jendela besar yang dilapisi kaca.

Tinggi tubuhnya sangat ganjil. Kepalanya nyaris menyentuh langit-langit. Gaunnya juga sangat panjang. Kulitnya sangat putih dan rambutnya blonde dihiasi latar belakang cahaya remang-remang. Ia seperti sedang melihat kebawah. Kearahku! Aku tak bisa mengambil nafas. Wajah pucat itu menyeringai sangat lebar, nyaris membuat bibirnya sobek. Matanya baru menatapku. Aku yakin aku baru saja terkena serangan jantung.

“Bapa kami yang ada di surga… Di-di-dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah ke-kerajaan-Mu. Be-berilah kami rejeki. Jadilah kehendak-Mu. Diatas Bu-bu-bumi… Seperti di dalam Surga. Be-berilah kami rejeki.. Pa-papa-pada hari ini…” Aku gemetar merapal doa sambil mengumpulkan kekuatan untuk berlari. Badanku menggigil. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Jantungku seperti mau meledak.

“Emma! Emma!” teriakku saat sampai di halaman gereja. Setengah kesal melihat bahwa gereja masih sepi. Jam berapa ini???

“Emma! Emma! Emma!” aku tidak bisa mengendalikan diriku saat ini. Aku masih kesulitan bernafas, detak jantungku juga normal. Dan Emma sekarang entah dimana. Aku sangat ingin menangis.

“Hei! Hei! Vallin! Aku di sini! Apa yang kau lakukan di sana?” seseorang melambaikan tangannya padaku. Aku menengok dan merasa luar biasa lega. Aku berlari kearah Emma yang berdiri di dekat motornya tak jauh dari motorku.

“Kau kenapa?”

“Ak-ak-aku,” aku tergagap. Masih terlalu syok dengan apa yang aku lihat barusan.

“Kenapa?” ujar Emma  sambil melepaskan jaket.

“Ak-ak-aku me-me-melihat,” nafasku tidak teratur.

“Melihat apa, sih?”

“Ka-kau benar Emma tentang hantu itu.”

“Hantu apa?”

“Hantu yang kau bilang tadi!”

“Ha? Bilang apa?”

“Kau, kau tadi berkata padaku kalau kau melihat hantu.”

“Ha? Aku baru saja tiba, Vallin.”

“Apa!” teriakku tak bisa menahan diri. “Aku baru saja tiba.” Ulangnya. “Ta-ta-tapi. Kau tadi mengatakkan padaku kalau kau-kau-kau…” ucapanku terhenti. Dadaku mencelus. “Kau tadi jelas-jelas bercerita padaku!” Emma masih bingung. “Vallin. Aku baru tiba,” ulangnya untuk yang ketiga kali. Aku menggeleng. Aku bisa melihat Emma dari sudut mataku ia sedang menatapku khawatir. “Tidak mungkin,” ujarku.

“Tadi kau bicara padaku kalau kau melihat hantu.” Emma tidak menjawab.

“Dan aku tadi melihat hantu juga Emma!”

“Vallin?” tanya Emma penuh rasa khawatir. Aku melihat wajahnya. Ia menempelakan tangannya di keningku. “Kau demam,” katanya.

“Tidak!” Bantahku.

“Kau kan tahu kalau kita tidak akan pernah percaya hantu, Vallin.”

Bagikan

Leave a Reply