“Sebab mencari dan memilih passion tidak semudah memilih menu makan di restoran Padang”  

 

Hai kawan-kawan semuanya, tulisan kali ini masih menyambung topik seputar dunia pekerjaan setelah lulus dari perguruan tinggi dan menyandang gelar sarjana.

Di zaman milenial ini, banyak anak muda yang sudah tidak lagi tertarik dengan dunia pekerjaan formal seperti pegawai kantor atau PNS. Beberapa anak muda ini lebih tertarik sekaligus tertantang untuk mengembangkan passion yang mereka punya. Bagi kamu yang pernah mengalami masa kuliah, mungkin kamu tahu atau pernah mengalami bagaimana kata passion pernah terdengar amat menarik sebelum akhirnya harus dihadapkan pada keharusan bekerja pasca lulus kuliah.

Permasalahan umum yang sering dihadapi para pemuda ini adalah anggapan dari orang tua tentang passion yang mereka coba untuk perjuangkan. Sama seperti apa yang saya tulis di catatan sebelumnya, banyak orang tua yang masih terjebak pola pikir lama tentang dunia pekerjaan. Banyak anak muda yang sebenarnya ingin mengembangkan passion mereka selepas lulus kuliah atau sekolah namun terbentur dengan persoalan itu. Pada akhirnya, mereka harus tunduk dengan keinginan atau arahan dari orang tua.

Beberapa waktu lalu penulis kebetulan berjumpa dengan dua orang kawan lama semasa kuliah. Dua orang dari jurusan dan universitas yang berbeda ini bercerita banyak tentang sebuah masalah yang sama-sama sedang mereka hadapi. Bukan karena tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakan, masalah ini lebih disebabkan orang tua keduanya yang ngotot agar si anak menuruti permintaan petuah bijak mereka. Khas sarjana zaman now yang dipenuhi idealisme dan keinginan mengikuti passion, mereka berdua juga demikian.

Yang pertama sebut saja Untung, seorang sarjana hukum lulusan sebuah PTS di Jogja. Ia memiliki passion di bidang otomotif. Cita-citanya adalah membuka bengkel custom tetapi orang tuanya ngotot agar ia menjadi pengacara. Yang kedua sebut saja Bejo, ia seorang sarjana bidang bahasa yang merasa punya passion di bidang Event Organizer sebelum akhirnya di tarik pulang ke kampung halaman oleh orang tuanya. Mereka menginginkan Bejo harus menjadi PNS dan itu membuatnya stress hingga berat badannya turun 9 kilogram dalam 6 bulan. Wow! Diet yang sukses, Jo!

Untuk itu, saya ingin berbagi kisah tentang cara merebut hati agar orang tua merestui passion kita. Ya, paling tidak agar nama kita tidak di coret dari kartu keluarga, di coret dari daftar penerima warisan, atau di kutuk menjadi batu. Kan serem.

 

  1. Cari dan pilih passion yang tepat

Ini penting sebab mencari dan memilih passion tidak semudah memilih menu makan di restoran Padang ya sobat. Banyak orang yang masih bingung membedakan antara sekadar keinginan dan passion. Sementara ada pula orang yang bingung sebab merasa memiliki passion terlalu banyak. Nah loh! Untuk itu, cari dan pilih dulu mana yang benar-benar passionmu dan mana yang hanya sekedar keinginan. Apakah menjadi seorang penulis, desainer, atau film maker.

 

  1. Diskusikan dengan orang tua

Terkadang permasalahan antara orang tua dengan anak terjadi karena tidak adanya komunikasi diantara mereka. Nah, agar orang tua tahu apa yang ada di hati terdalam kalian, mulailah berdiskusi tentang cita-cita dan keinginan kalian. Bagi yang masih kuliah, ini bahkan bisa di mulai sejak kalian masih menjadi mahasiswa. Toh tidak ada salahnya sekadar sharing dengan orang tua tentang apa keinginan pribadi kalian di masa mendatang. Siapa tahu kelak ayah ibu ingin si anak tercinta jadi cawapres guru IPA tapi kalian punya passion sebagai seorang video blogger dan ingin bekerja di bidang itu. Siapa tahu juga kan setelah berdiskusi orang tua mendukung niat kalian. Ingat, komunikasi adalah hal penting loh kawan!

 

  1. Konsisten dengan passion

Salah satu musuh internal bagi orang yang mencoba hidup dengan mengikuti passion adalag: mereka tidak konsisten. Kalian perlu konsisten agar orang tua tahu bahwa apa yang kalian lakukan benar-benar passion yang itu tuh anak gue banget. Jangan sampai kalian sudah dapat restu dari orang tua untuk jadi seorang musisi, sudah dibelikan seperangkat alat musik tapi mendadak beralih passion jadi seorang juru masak karena tiba-tiba sadar kalau bermusik bukan bidang yang pas bagi kalian menurut primbon Jawa.

 

  1. Bangun Kepercayaan Orang Tua

Jika kalian sudah dapat restu dari orang tua untuk hidup dengan passion kalian, maka urusan membangun kepercayaan tidak bisa disepelekan. Banyak orang yang menganggap bekerja sesuai passion berarti bisa bekerja sesuka hati. Menurut penulis, itu anggapan yang salah. Kamu boleh tetap bekerja sesuai passion namun tetap harus serius dalam menekuninya. Buat apa? Ya buat membangun kepercayaan orang-orang disekitarmu (termasuk orang tuamu). Gimana orang tuamu mau merestui passionmu kalau kamu seenaknya begitu?

 

  1. Tunjukan bahwa kalian bisa sukses

Musuh terbesar lainya adalah disepelekan oleh orang-orang di sekitar kita (termasuk orang tua) secara materi. Banyak orang tua merasa bahwa satu-satunya jalan untuk sukses adalah dengan menjadi pegawai berseragam dan berdasi. Nah, hal ini penting untuk menjawab anggapan tersebut. Tentu orang tua akan bahagia jika kalian bisa menunjukan bahwa kalian tetap bisa sukses walaupun mengikuti passion yang ada dalam jiwa. Orang tua mana sih yang tidak senang dan bahagia melihat anaknya bisa beli Toyota Avanza di bayar tunai padahal sehari-hari kerjaannya ‘hanya’ mainan laptop berjam-jam lamanya.

 

Nah itu dia beberapa tips agar passion kalian tetap bisa diterima oleh orang tua dan kalian bisa tenang menjalankannya. Semoga setelah membaca dan mempraktekannya kalian mendapatkan dukungan hidup bersama passion kalian; entah menjadi video blogger, desainer, selebgram, atau mungkin buzzer politik.

Bagikan

Leave a Reply