Kita boleh saja tidak suka  kepada seseorang namun kita  pun harus mampu menempatkan ketidaksukaan itu      

 

 

Tulisan ini saya buat untuk menuangkan kegelisahan tentang pola framing pemberitaan akhir-akhir ini. Media, entah itu media sosial ataupun media massa (tapi seringnya sih media sosial) seakan terlalu terpaku pada frasa ‘menjelang tahun politik’. Sehingga, apapun dan siapapun itu selalu saja dikait-kaitkan dengan politik. Singkat kata, kita terjebak hanya memahami seseorang dari kapasitas politiknya padahal di luar itu orang tersebut tetaplah manusia biasa. Ya, manusia biasa dengan segala sisi baik dan buruk yang ia miliki. Perlu saya garisbawahi juga, bahwa tulisan ini bukanlah bentuk dukungan terhadap siapapun itu yang maju dalam ajang pilpres 2019.

Untuk tema kali ini, saya tertarik membahas seorang Prabowo Subianto. Bukan sebagai calon presiden atau mantan Danjen KOPASSUS melainkan sebagai seorang pribadi Prabowo. Banyak orang yang menganggap aneh sosok satu ini karena mempunyai seorang anak yang memilih menjadi seorang desainer. Hal ini selalu saja dikaitkan dengan aspek maskulinitas, atau dengan latar belakang Prabowo sebagai seorang tentara. Banyak orang seenaknya seakan berkata, “Tentara kok anaknya kayak gitu,” atau “Kok anaknya capres kayak gitu sih.”

Jika saja kita mau jujur, sekali lagi tanpa terjebak pandangan politis yang terkadang membuat kita menjadi katak dalam tempurung, hal itu sebenarnya bukanlah sebuah masalah. Apa sih masalahnya jika anak seorang tentara memilih jalan hidupnya sendiri? Bagi saya, ini malah menunjukkan sisi humanisme seorang Prabowo Subianto. Ia boleh saja seorang mantan tentara namun ia menghormati pilihan sang anak untuk masuk ke dunia yang ia sukai dan tetap mendukungnya. Malah menjadi masalah seandainya Prabowo memaksa sang putra untuk mengikutinya sebagai tentara contohnya. Toh jika dihadapkan dengan para warganet yang sok-sokan jadi cyber army itu, rasanya sisi ini tidak akan mereka gubris.

Masih tentang Prabowo Subianto. Banyak  haters-nya yang mengatakan ia tidak pantas menjadi presiden karena latar belakang rumah tangganya. Ya, seperti yang kita tahu ia adalah seorang duda setelah bercerai dengan Titiek Suharto. Bagi saya, ini hanyalah pandangan haters yang tidak didukung dengan analisa dan data yang cukup untuk mengeneralisir hal ini. Toh, apa hubungannya status pernikahan dengan kapasitas politik? Jika saja kita mau belajar dari sejarah, presiden pertama Indonesia pun mengalami hal serupa. Di tahun 1960-an, Sukarno pun terlibat konflik dengan Fatmawati setelah Sang Singa Podium memutuskan menikah dengan Hartini. Fatmawati memilih pergi dari istana  dan  tinggal di rumah pribadinya. Tak tanggung-tanggung, konflik ini pula yang membuat Fatmawati mempunyai janji untuk tidak lagi menginjakkan kaki di Istana Negara, bahkan hingga Sukarno wafat. Kalau mau konsisten, bukan hanya Prabowo yang harus di cerca dengan anggapan itu. Sukarno pun harus di cerca. Berani kah kalian?

Pandangan yang terlalu politis terhadap seseorang di tambah dengan fanatisme berlebih juga membuat banyak dari kita yang telah lupa terhadap sisi baik orang-orang yang sering kita bicarakan itu. Mau contoh? Mari kita angkat seorang Fadli Zon. Banyak orang yang menganggap wakil ketua DPR ini sebagai sosok yang hanya bisa nyinyir di Twitter serta membuat pernyataan-pernyataan kontroversial. Bagi para haters-nya, pria ini seakan tidak ada ‘bagus-bagusnya’ sama sekali. Saya termasuk orang yang tidak suka dengan sifatnya yang satu itu namun saya jujur menaruh kagum terhadap Fadli Zon. Bukan kagum terhadap Fadli sebagai wakil ketua DPR, kader Gerindra, atau politisi namun Fadli sebagai seorang pemerhati sejarah. Saya kagum dengan kegemarannya mengoleksi buku dan berbagai benda sejarah untuk kemudian dijadikan sebuah perpustakaan yang di buka untuk umum. Kalau mau lebih jujur lagi, sangat sedikit politisi yang menaruh perhatian nyata terkait  urusan literatur dan sejarah.

Inti tulisan kali ini adalah sebuah ajakan kepada siapapun itu untuk mau lebih jujur kepada diri sendiri. Kita boleh saja tidak suka  kepada seseorang namun kita  pun harus mampu menempatkan ketidaksukaan itu; tidak suka terhadap si A sebagai politisi atau sebagai si A pribadi. Jika memang kita berseberangan secara politis, maka cukupkan itu di ranah politis tanpa harus diperlebar ke ranah-ranah lain. Tidakkah kita bosan melihat bangsa ini terpecah menjadi dua kubu yang saling serang hanya karena sebuah ajang pesta politik yang ditanggapi secara berlebih?

Sebagai penutup, saya ingin bercerita tentang D.N Aidit, ketua CC PKI yang secara politis berseberangan dengan Mohammad Natsir selaku ketua Masyumi. Karena perbedaan itu, mereka berdua dikisahkan pernah hampir lempar-lemparan kursi dalam sebuah rapat. Selepas rapat, Aidit lalu mengajak Natsir minum kopi bersama sembari menanyakan kabar istri Natsir yang sedang sakit. Dua tokoh ini pun sering pulang bersama saling berboncengan sepeda karena kebetulan rumah mereka searah.

Apa yang dibutuhkan bangsa kita adalah sederhana; persatuan di atas segala-galanya. Mirip seperti pernyataan puluhan politisi zaman now yang sayangnya tidak di dukung dengan sikap dan pemahaman oleh media dan kalangan akar rumput.

Bagikan

Leave a Reply