Kesadaran dan rasa tanggung jawab moral dari sebuah hasil pendidikan sudah selayaknya digunakan untuk sebanyak mungkin kebaikan bagi masyarakat sekitar

 

Membuka ulang mozaik sejarah yang terjadi pada bulan Oktober, kita akan bersua dengan Sumpah Pemuda. Peristiwa ini terjadi pada 28 Oktober 1928 ketika para aktivis pergerakan berkumpul di Jakarta dalam Kongres Pemuda II. Pada kongres inilah disepakati bahwa Bahasa Indonesia dijadikan sebuah bahasa persatuan dan lagu Indonesia Raya pertama kali diperkenalkan. Sumpah Pemuda bukan hanya sebuah peristiwa yang beririsan dengan dunia pergerakan era 1928-an dimana gejolak nasionalisme sedang membara. Mari membuka ulang kilas sejarah sejak 1900-an.

Para pemuda yang berkumpul pada acara tersebut adalah para aktivis yang notebene telah menemukan kesadaran tentang satu nasion bernama Indonesia. Banyak dari mereka yang berhasil menembus tingkat pendidikan yang tinggi. Dari pendidikan yang mereka peroleh itulah mereka menemukan sebuah oase untuk menemukan kesadaran, melangsungkan pergerakan sekaligus membentuk berbagai wadah untuk berkumpul.

Kesempatan mengakses pendidikan bagi para pribumi tidak bisa dilepaskan dari peristiwa yang mendasari lahirnya Sumpah Pemuda. Sejak tahun 1910-an, dunia pergerakan kemerdekaan telah beralih ke tangan para tokoh yang berasal dari para akademisi. Organisasi nasional pertama, Boedi Oetomo pun lahir dari para siswa sekolah kedokteran Hindia Belanda (STOVIA).

Yang juga tidak bisa dilepaskan dari momentum ini adalah perubahan kebijakan yang diterapkan pemerintah kolonial menjelang tahun 1900. Adalah politik etis yang membuat para pribumi Indonesia berkesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih baik lagi. Akibat dari kebijakan yang diusulankan Van Deventer ini, banyak pribumi Indonesia yang berkesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi bahkan hingga ke Netherland. Mohammad Hatta, Tan Malaka, dan Iwa Kusumasumantri adalah beberapa diantaranya.

Berbicara Sumpah pemuda dari kacamata dunia pendidikan adalah berbicara tentang tanggung jawab moral dari sebuah proses pendidikan. Mereka yang telah mendapatkan pendidikan tinggi akhirnya memilih jalan terjal sebagai aktivis-aktivis yang memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya. Tidak sedikit dari mereka yang rela kehilangan kesempatan mengakses dunia pekerjaan, mendekam di penjara, hingga ancaman di buang oleh pemerintah Belanda.

Kesadaran akan status sebagai ‘orang terpelajar’ (literated) tidak membuat mereka duduk di menara gading berupa kemapanan yang jauh dari realitas masyarakat sekitar. Mereka berbalik arah untuk kemudian turut mengawal mimpi kemerdekaan atas bangsa yang telah 3 abad lamanya berada di cengkeraman penjajah. Setidaknya, ini membuktikan betapa pendidikan tinggi yang diikuti dengan kesadaran yang tinggi akan melahirkan sebuah perubahan yang nyata.

Ironi inilah yang sekarang dihadapi oleh bangsa Indonesia, 90 tahun setelah Sumpah Pemuda terjadi. Pendidikan tinggi hanya membawa banyak orang duduk di menara gading berupa kemapanan, ekslusivitas, dan keengganan untuk turun langsung membaktikan diri bagi masyarakat sekitar. Pola pendidikan yang pragmatis cenderung menempatkan pendidikan sebagai media mengakses kemapanan hidup, (bahkan) kekayaan, dan minim timbal balik moral kepada masyarakat sekitarnya.

Belajar dari Sumpah Pemuda, pendidikan tinggi sudah selayaknya membuka kesadaran sekaligus tanggung jawab baru kepada mereka yang telah mencercapnya. Kesadaran dan rasa tanggung jawab moral dari sebuah hasil pendidikan sudah selayaknya digunakan untuk sebanyak mungkin kebaikan bagi masyarakat sekitar. Belajar dari Sumpah Pemuda adalah belajar tentang bagaimana predikat ‘kaum pelajar’ tidak membuat para aktivis kemerdekaan membatasi diri hanya untuk bekerja sebagai pegawai pemerintahan Hindia Belanda.

Atau, ada tahu bahwa Mr. Soegondo Djojopoespito pernah membolos sidang Kongres Pemuda II untuk mengikuti tes CPNS? Hehehe ~

 

(Artikel ini pernah diterbitkan di mini buletin Warta Nira edisi ke-2 14 Oktober 2018 dengan judul Sumpah Pemuda Dari Kacamata Literasi)

Bagikan

Leave a Reply