Dalam rangka memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda, Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan, Padepokan ASA, dan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Sleman mengadakan bedah buku ‘The Master Book of Sukarno – Kisah-Kisah Abadi Sang Ideolog’ dan diskusi pada Minggu, 28 Oktober 2018. Bertempat di Padepokan ASA, Wedomartani, diskusi ini mengadirkan  2 pembedah yaitu Rahmadi Gunawan (pendiri Sanggar Bocah Jetis dan anggota Karang Taruna  DIY) serta Achmad Sofyan (mahasiswa S2 Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada). Acara ini juga menghadirkan penulis buku  tersebut, Syaeful Cahyadi, yang juga merupakan pendiri Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan.

Di pandu oleh Diah Fitria Widhiningsih (dosen Universitas Gadjah Mada sekaligus pendiri Bercak Pustaka), diskusi ini diawali dengan penyampaian gambaran secara umum oleh Syaeful Cahyadi selaku penulis. Menurutnya, buku ini memiliki segmen pembaca yang umum. “Lebih cocok digunakan sebagai acuan awal bagi kawan-kawan yang ingin belajar tentang Sukarno, sebelum nanti membaca Penyambung Lidah Rakyat  maupun Di Bawah Bendera Revolusi,” ujarnya. Sementara Rahmadi Gunawan lebih menggaris bawahi perlunya buku ini bagi mereka yang ingin mengetahui tentang Sukarno namun memiliki kendala untuk membaca atau mengoleksi buku-buku magnum opus Sukarno. “Aku menemukan gambaran yang lengkap di buku ini tanpa harus membaca buku-buku Sukarno yang tebal-tebal sekaligus mahal itu,” terangnya. Achmad Sofyan menambahkan pula bahwa buku ini hadir sebagai sebuah cara baru bagi orang-orang yang ingin belajar tentang sejarah namun cukup repot apabila harus membaca buku yang ‘sejarah banget’ terutama dari sisi teknis penulisan.

Di sesi kedua, para pembedah dan penulis mencoba mengangkat tentang sisi ideologis seorang Sukarno. Hal ini menjadi penting karena judul tulisan ini yang menitikberatkan pada ideologi dan keabadian. Achmad Sofyan menggarisbawahi bahwa ideologi asli seorang Sukarno adalah tentang kebersamaan. Menurut pendiri omunitas Taman Kota Jogja ini, ideologi tentang kebersamaan itulah yang mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik yang di ambil Sukarno saat ia menjadi seorang pejuang maupun seorang presiden. Ia juga mengatakan bahwa Sukarno adalah seorang good copier, seseorang yang mampu melihat dan kemudian meniru hal-hal yang menurutnya mendukung kegiatan politiknya. “Dia itu meniru, tapi tidak sepenuhnya meniru. Dia  tetap mampu membuat penyesuaian-penyesuaian atas apa yang ia lihat.” Rahmadi Gunawan menambahkan bahwa Pancasila dan temuan-temuan Sukarno lain semasa ia hidup itulah yang kemudian menjadi ideologi yang identik dengan seorang Sukarno. Dari sisi penulis, Syaeful Cahyadi menambahkan bahwa Sukarno tidak lagi bisa dikotakkan hanya  menjadi seorang presiden semata, penikmat seni, maupun pemimpin. “Saya melihat, dia adalah seorang pemikir  yang kemudian hasil pemikirannya mampu hidup hingga saat ini dan menjadi sebuah nilai bersama. Itulah kenapa saya anggap Sukarno adalah seorang ideolog besar.”

Diskusi dan bedah buku ini berjalan santai, penuh dengan guyonan-guyonan segar, namun juga mampu mengulik sisi menarik lain dari seorang Sukarno. Salah satu yang menjadi catatan penting adalah fakta yang di ungkap oleh Achmad Sofyan. “Jika dulu kita mengenal Sukarno hanya punya 9 istri, sekarang sudah tambah. Sudah ada pengakuan lain dari dari Filipina tentang seorang wanita yang pernah dinikahi Sukarno. Jadi sekarang Sukarno itu tercatat punya 10 istri selama ia hidup,” terangnya. Hal ini tentu sesuatu yang baru yang belum banyak diketahui oleh orang banyak.

Acara ini juga mampu memberikan beberapa masukan terhadap penulis terhadap relevansi isi dan teknis penulisan buku The Master Book of Sukarno. Masukan paling penting, menurut Achmad Sofyan, adalah tentang kesalahan penulisan abad yang sebenarnya cukup fatal. Hal ini menunjukkan, setidaknya acara yang dihadiri sekitar 30 orang tersebut berjalan dengan objektif untuk benar-benar ‘membedah’ buku tersebut.

Sesi diskusi dan tanya jawab juga kemudian melebar dan membahas pandangan-pandangan seorang Sukarno terhadap pemuda. Menurut Rahmadi Gunawan, Sukarno menginginkan pemuda yang benar-benar mampu mencintai tanah airnya dan berani tampil untuk membangun Indonesia. Dari sisi lain, Achmad Sofyan menambahkan bahwa Sukarno memiliki  kepedulian besar terhadap para pemuda, terutama dalam hal mempersiapkan masa depan Indonesia. Achmad juga menegaskan ulang pendapatnya tentang konsep good-copier ala Sukarno untuk para pemuda. “Ya pemuda bagi Sukarno itu harus berani melihat dan meniru untuk kemudian digunakan demi memajukan bangsanya,” ungkapnya. Keberanian seorang Sukarno dalam konteks semangat muda juga ditegaskan ulang oleh penulis. Ia menjelaskan bagaimana seorang Sukarno yang berijasah insinyur lulusan Sekolah Tinggi Teknik Belanda menolak bekerja sebagai pegawai pemerintahan hanya demi masuk ke dunia politik pergerakan. “Dia lebih memilih melakukan apa yang ia sebut ‘kewajibannya’,” ujar Syaeful Cahyadi.

Acara ini ditutup dengan pembagian 2 buku The Master Book of Sukarno yang dipersembahkan oleh Forum Taman Bacaan DIY. Masing-masing didapatkan oleh 2 orang peserta yang alamat domisilinya paling jauh dari lokasi acara. Ficky T. Rochman dari Mlangi, Gamping dan Dayat yang berasal dari Cilacap, Jawa Tengah.

Bagikan

Leave a Reply