Anak-anak telah tercabut dari akar budayanya dan di paksa masuk ke dunia yang belum seharusnya mereka masuki

 

Saya sejak 3 bulan yang lalu menderita sakit dan membuat tidak bisa beraktivitas dengan normal. Otomatis, di rumah, saya memiliki banyak waktu luang dan terkadang bingung menghabiskannya. Pilihan yang paling praktis (dan mungkin tidak berguna) adalah menonton televisi. Dari berbagai acara televisi, saya cukup tergelitik sekaligus merasa miris dengan sebuah program pencarian bakat di sebuah televisi swasta. Program tersebut menyasar anak-anak sebagai peserta. Layaknya ajang pencarian bakat lain, peserta harus harus mengikuti audisi, dikomentari oleh para juri, untuk kemudian bisa lolos ke tahapan selanjutnya. Sampai di bagian ini, semuanya terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang salah memang dengan acara ini. Sejujurnya yang membuat saya cukup miris adalah sasaran dari ajang pencarian bakat tersebut: anak-anak.

Melihat acara tersebut, saya tiba-tiba teringat masa kecil yang saya alami menjelang milenium baru tahun 2000. Bagi saya, anak-anak yang lahir di tahun 90-an rasanya cukup beruntung. Kami menjalani masa kecil di dunia yang sedang berkembang ke arah modernitas namun masih diberkahi dengan berbagai lagu anak-anak, baik yang modern maupun tradisional. Nama-nama seperti Tina Toon, Agnes Monica, dan Tasya Kamila beserta lagu-lagu mereka menghiasi masa kecil generasi ini. Tak lupa untuk disebutkan pula beragam tontonan khas anak-anak seperti kuis hingga kartun (yang jika hari minggu tiba akan tayang dari pukul 06 pagi hingga 01 siang). Lagu anak-anak tradisional pun masih jamak ditemui di masa itu.

Kembali ke ajang pencarian bakat yang tadi, entah mengapa rasanya sangat miris demi melihatnya. Anak-anak yang belum saatnya bertingkah selayaknya orang dewasa terlihat imut dengan penampilan mereka yang dalam kacamata saya pribadi terkesan ‘dipaksakan’. Saya sendiri yakin, banyak orang yang merasa hal ini sebagai sesuatu yang normal. Tidak ada yang salah dengan anak-anak yang tampil dalam acara tersebut. Muncul dengan baju warna-warni lalu menyanyikan lagu-lagu populer zaman now baik dari dalam maupun luar negeri.

Sekali lagi, ini adalah pandangan subjektif. Entah kenapa saya melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang miris sekaligus ironis. Bagi saya, acara tersebut menunjukkan bahwa di negeri ini tidak lagi ada budaya tentang lagu anak-anak. Di ajang tersebut, anak-anak peserta audisi muncul dengan menyanyikan lagu-lagu yang kebanyakan adalah jenis lagu remaja bahkan dewasa. Bahkan, konten lagu yang dinyanyikan sangat tidak cocok dengan dunia anak-anak. Tiba-tiba kok saya merindukan sosok penyanyi cilik dengan lagu bertema anak-anak dan sosok-sosok seperti Pak dan Bu Kasur.

Saya juga sering menemukan anak-anak di sekitar saya sering berkelakar tentang dunia percintaan. Si A cinta sama si B. Si C ternyata sedang PDKT sama di D. Jika saja melihat ajang pencarian bakat tersebut, rasanya semacam menemukan sebuah pembenaran akan fakta-fakta yang saya lihat; anak-anak sudah terbiasa dengan isu percintaan, setidaknya lewat lagu. Entah itu lagu tentang jatuh cinta, di tinggal/selingkuh pergi kekasihnya, atau patah hati. Aduh aduh.

Saya tentu percaya, modernitas adalah sebuah keniscayaan bagi sebuah masyarakat. Entah cepat atau lambat datangnya. Permasalahannya adalah, banyak orang (mungkin termasuk saya) yang kemudian salah kaprah dalam menilai sebuah budaya baru bernama modernitas itu sendiri. Padahal, modernitas hanya akan menjadi sebuah bumerang jika tidak melewati proses-proses penyesuaian dengan lingkungan yang ada di sekitar kita. Dalam kacamata saya, audisi pencarian bakat dalam dunia anak-anak adalah salah satu bukti tentang bagaimana modernitas telah masuk sedemikian jauh ke dalam kehidupan kita. Mereka, makhluk kecil nan imut yang seharusnya masih belajar tentang pertemanan, kerjasama, dan keceriaan-keceriaan lain harus tercabut dari akarnya untuk kemudian masuk ke tahap yang lebih tinggi, yang seharusnya belum mereka masuki. Mereka  yang seharusnya masih diperkenalkan dengan lagu-lagu dengan tema anak-anak harus di bawa ke tahapan-tahapan yang lebih jauh. Diperkenalkan dengan lagu-lagu remaja dan dewasa, yang sedikit banyak mempengaruhi psikologis mereka.

Saya terkadang geli ketika mendengar seorang ibu berkeluh kesah tentang anaknya. “Wah, dia sekarang sudah gak mau main sama si itu,” “Dia sekarang susah kalau suruh main keluar, lebih suka di kamar main handhone,” atau, “Halah, anak-anak kok ngomong tentang pacar-pacaran,”. Sementara di satu sisi, para orang tua tidak bisa dan/atau tidak mampu menyaring budaya-budaya yang masuk ke anak-anak mereka. Lha gimana gak paham kisah cinta, wong orang tuanya kadang bangga lihat si anak nyanyi lagu-lagu dewasa.

Lewat tulisan ini, saya sekaligus ingin merawat ingatan kita semua. Indonesia boleh saja tidak lagi punya sosok penyanyi cilik. Yang di anggap ‘cilik’ bukan semata karena usianya namun juga karena isi  lagu yang ia bawakan. Tetapi kita tidak boleh lupa, Indonesia adalah negara dengan kekayaan budaya nan luar biasa. Termasuk untuk urusan lagu anak-anak. Saya yakin, hampir tiap daerah punya budaya tentang lagu anak-anak yang mempunyai pesan moral yang sebenarnya mengesankan. Pesan-pesan tentang tolong menolong, menghargai keberagaman, dan gotong royong banyak ditemukan dalam lagu-lagu tersebut

Pertanyaannya adalah, maukah kita memperkenalkan semua itu ke anak-anak di sekitar kita? Maukah kita berupaya kembali membawa para makhluk kecil dan imut itu kembali ke dunia mereka sendiri demi sebuah pendidikan karakter yang lebih terarah dan sesuai dengan umur mereka? Atau, kita cukup bahagia melihat mereka masuk ke dalam dunia yang belum selayaknya mereka masuki? Ibarat, anak kelas 1 SD namun ikut pelajaran di kelas  5 SD.

Terakhir, saya jadi ingat di tahun 60-an, grup musik Koes Bersaudara pernah di jebloskan ke penjara karena mempopulerkan musik barat. Waktu itu, Sukarno selaku presiden Indonesia memang amat tidak menyukai budaya-budaya barat, termasuk lagu barat yang ia sebut musik ngak ngik ngok. Saya berandai-andai, jika saja Sukarno masih hidup, apa beliau tidak akan mencak-mencak dengan 3 bahasa saat melihat anak-anak kecil fasih menyanyikan lagu-lagu barat?

Bagikan

Leave a Reply