Suasana ruang kelas/foto: dokumentasi penulis

Bapak pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara, menegaskan bahwa tujuan dari pendidikan ialah untuk memperhalus sikap dan budi pekerti. Sementara Tan Malaka di buku biografinya Dari Penjara Ke Penjara secara tidak langsung menyinggung bahwa pendidikan berpotensi menghasilkan golongan yang menganggap dirinya elit dan enggan membumi. Lalu sebenarnya seperti apa pendidikan hari ini di tengah-tengah arus kapitalisme yang mendera hampir segala bidang kehidupan? Hari ini, di tengah derasnya arus kemajuan zaman dan degradasi nilai-nilai kehidupan, pendidikan sesungguhnya sedang berada di dalam sebuah pusaran arus kapitalisme. Penulis melihat bahwa masyarakat hari ini lebih memandang pendidikan dari sebuah sisi sempit.

Tidak jarang penulis mendengar orang tua berkata kepada anaknya, “rugi menyekolahkan kamu kalau kamu tidak pintar, nilaimu tidak bagus.” Dari pernyataan seperti ini sebenarnya kita sudah bisa menerka harapan si orang tua. Alih-alih mendapatkan pendidikan karakter yang lebih baik serta pendampingan belajar dari sebuah fasilitas pendidikan, kebanyakan orang tua masih mementingkan hasil dari belajar berupa nilai atau rangking yang baik. Lebih parahnya, fenomena ini kemudian tidak diikuti dengan tanggung jawab yang baik oleh para orang tua mengenai proses pembelajaran yang ada di dalam diri si anak. Banyak dari orang tua yang terkesan menyerahkan sepenuhnya proses tumbuh kembang anak kepada sekolah. Orang tua seakan tak mau tahu dengan proses pendidikan di sekolah dan tinggal duduk manis menerima hasil belajar berupa nilai atau rangking yang bagus. Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor lahirnya pemahaman anak-anak bahwa mereka harus mendapatkan nilai dan rangking yang baik. Padahal, pendidikan adalah sebuah proses tiada henti dalam hidup manusia. Terlalu naif rasanya apabila keberhasilannya hanya di ukur dengan standar nilai.

Dalam aspek kehidupan yang lebih nyata, pandangan pragmatis-kapitalistis lain juga mendera sisi lain dunia pendidikan. Orang tua, sekali lagi, merasa bahwa mereka telah mengeluarkan banyak biaya bagi pendidikan si anak. Hal inilah yang kemudian mempengaruhi pilihan-pilihan si anak pasca menempuh pendidikan. Banyak  anak yang kemudian terbebani dengan permintaan sang orang tua agar memiliki pekerjaan sesuai harapan sang orang tua. Dalam studi kasus semacam ini, penulis melihat orang tua menjadi lebih seperti investor bagi pendidikan si anak sekaligus harus mengarahkan anaknya agar mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan harapan mereka. Dengan berlandaskan slogan lama tentang ‘kemapanan dan kenyamanan hidup’, orang tua akhirnya terlalu memaksakan kehendak si anak terkait dengan dunia pekerjaan dan/atau jenjang pendidikan yang akan di tempuh.

Dari sisi psikologis, kondisi inilah yang akhirnya menjadi beban untuk si anak dalam menempuh pendidikan lanjutan. Ambilah contoh bagaimana bila si anak memiliki keinginan untuk kuliah di jurusan seni namun oleh orang tuanya ‘dipaksa’ untuk masuk ke jurusan keguruan demi alasan ‘kemapanan dan kenyamanan’ dalam hidup. Pasca si anak lulus dari pendidikan contohnya, mereka di minta untuk bekerja menjadi PNS atau pegawai pemerintahan, tidak peduli minat dan bakat si anak. Hal ini makin diperparah dengan pandangan klasik orang tua bahwa lema ‘bekerja’ haruslah diterjemahkan dalam bentuk pekerjaan formal-berdasi-berseragam di luar rumah. Mereka tidak akan menganggap si anak ‘bekerja’ dan ‘mapan’ apabila si anak memilih menjadi video blogger, penterjemah, atau desainer yang pekerjaannya bisa dikerjakan dari rumah.

Dari sudut pandang sosial, pandangan-pandangan klasik macam ini berpengaruh pula pada sedikitnya kaum muda yang mau terjun ke ranah pengabdian sosial. Kaum muda yang telah mendapatkan pendidikan, secara tidak langsung ditanamkan bahwa apa yang mereka dapatkan harus ‘ditukarkan’ dengan pekerjaan mapan dari segi materi. Apabila di daerah asal tidak memungkinkan maka mereka seakan di paksa untuk  mencari ke daerah lain. Akibatnya adalah, bagi pemuda di kota-kota non-industri seperti Yogyakarta, merantau kemudian dipertimbangkan sebagai cara demi mendapatkan kemapanan tersebut. Secara sistematis kaum muda berpendidikan sudah di cabut dari tugas sosialnya untuk mengabdi kepada lingkungan sekitar mereka dengan segenap ilmu yang dimiliki. Secara sistematis pula ditanamkan bahwa pendidikan diberikan untuk mengangkat derajat seseorang melalui dunia pekerjaan yang nyaman dan mapan. Pendidikan, sampai saat ini, masih jauh mengesampingkan fungsi sosial dan tanggung jawab moral dari golongan terdidik tersebut.

Tan Malaka pernah menulis tentang “kaum muda yang telah mendapatkan pendidikan dan enggan melebur bersama rakyat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana.” Datuk satu ini berpendapat bahwa apabila pendidikan hanya melahirkan golongan semacam itu, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali. Hari ini mungkin perkataan Tan Malaka menemukan kenyataan. Pendidikan dinilai dengan standar-standar yang begitu sempit mengenai derajat kemapanan seseorang. Hal ini, dengan konteks yang berbeda, seperti mengulang salah satu gambaran masa lalu yang Pramoedya Ananta Toer tuliskan di tetralogi Buru. Dengan lugas Pram menggambarkan bagaimana Minke diharuskan menjadi seorang penerus regent atau bupati dikarenakan bapaknya telah mengirimkanya ke sekolah. Ketika Minke menolak keharusan itu, maka cap durhaka dan pemberontak keluarga disematkan padanya.

Dunia pendidikan di Indonesia hari ini tentu masih jauh dari harapan Ki Hadjar Dewantara agar menghasilkan orang-orang denngan budi pekerti yang lebih halus. Orang tua, sebagai salah satu pemeran penting dalam proses pendidikan lebih menaruh perhatian dalam aspek hasil dalam konteks materiil. Seperti halnya pula sisi kehidupan lainya di Indonesia, dunia pendidikan pun ternyata di dera kapitalisasi bahkan dari sudut pandang orang tua sendiri. Sementara, gejolak zaman semakin terasa dan pendidikan di Indonesia sudah seharusnya menentukan jalan sendiri sesuai dengan kebutuhan masyarakat di dalamnya. Kebutuhan tentunya harus dipahami dalam konteks yang luas termasuk konteks pembangunan bangsa dan negara, bukan hanya kebutuhan pribadi yang lebih condong ke sifat pragmatis-kapitalistis dan semakin mempersempit arti dari pendidikan itu sendiri.

Pendidikan adalah proses tiada henti sepanjang hayat  manusia. Bukan hanya sekedar proses yang di tempuh untuk kemudian hasilnya ditukarkan dengan gaji UMR, kemapanan sosial, dan status sebagai PNS.

Bagikan

Leave a Reply